Intro
Dalam tradisi spiritualitas kristiani, pride (kesombongan) sering disebut sebagai akar dari banyak dosa. St. Agustinus menjelaskan bahwa kesombongan adalah sikap ketika manusia berbalik dari Tuhan. Sebaliknya, humility (kerendahan hati) adalah sikap yang menolong manusia hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat, tetapi menyadari bahwa hidup, talenta, dan semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pride sering muncul secara halus dan tidak mudah disadari. Oleh karena itu, penting bagi orang percaya untuk mengenali bagaimana pride bekerja dalam hati manusia serta bagaimana humility dapat dibangun dalam kehidupan rohani.
Bahan
St. Agustinus menggambarkan pride sebagai cinta diri yang berlebihan hingga membuat manusia mengabaikan Tuhan. Sementara itu, St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa pride adalah keinginan yang tidak teratur untuk meninggikan diri.
Pride membuat manusia menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Ketika seseorang mulai merasa bahwa ia tidak lagi membutuhkan Tuhan atau orang lain, ia perlahan-lahan menutup dirinya terhadap kasih karunia Tuhan.
Kisah kejatuhan manusia dalam Kitab Kejadian menunjukkan hal ini dengan jelas. Godaan yang diberikan kepada manusia adalah janji bahwa mereka akan menjadi “seperti Allah”. Dengan kata lain, manusia tergoda untuk menentukan kebenaran sendiri tanpa bergantung pada Tuhan. Inilah inti dari pride: keinginan untuk mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita.
Bentuk-bentuk pride dalam kehidupan
Pride jarang muncul secara langsung. Dalam banyak kasus, ia hadir dalam bentuk yang halus dan sering kali tampak wajar.
1. Self-sufficiency
Salah satu bentuk pride adalah self-sufficiency, yaitu sikap merasa cukup dengan kekuatan sendiri. Orang yang memiliki sikap ini cenderung berpikir bahwa keberhasilan mereka sepenuhnya berasal dari usaha dan kemampuan pribadi.
Padahal dalam iman kristiani, segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah anugerah dari Tuhan. Talenta, kesempatan, kesehatan, bahkan kehidupan itu sendiri adalah pemberian Tuhan. Ketika seseorang melupakan hal ini, ia mulai menganggap dirinya sebagai sumber dari keberhasilannya sendiri.
Sikap seperti ini secara perlahan membuat manusia semakin jauh dari kesadaran akan ketergantungannya pada Tuhan.
2. Self-importance
Bentuk lain dari pride adalah self-importance, yaitu perasaan bahwa diri sendiri lebih penting daripada orang lain. Orang yang memiliki sikap ini cenderung mencari pengakuan dan ingin dihargai oleh orang lain.
Ia mungkin merasa tersinggung ketika tidak diperhatikan atau ketika orang lain menerima pujian yang lebih besar. Dalam situasi seperti ini, hubungan dengan orang lain dapat berubah menjadi persaingan. Orang lain tidak lagi dilihat sebagai sesama yang harus dikasihi, tetapi sebagai pembanding untuk menilai diri sendiri.
Kesombongan seperti ini membuat seseorang sulit merasakan sukacita atas keberhasilan orang lain.
3. Merendahkan orang lain
Pride juga sering muncul dalam sikap merendahkan orang lain. Seseorang mungkin dengan mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekurangan dirinya sendiri.
Yesus menggambarkan sikap ini dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi berdoa dengan membanggakan dirinya dan memandang rendah pemungut cukai yang dianggap berdosa. Namun pemungut cukai datang dengan sikap rendah hati dan memohon belas kasihan Tuhan.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menunjukkan bahwa kerendahan hati lebih berkenan kepada Tuhan daripada kesombongan religius.
Kesombongan Religius
Pride tidak hanya menjadi masalah bagi mereka yang jauh dari Tuhan. Bahkan dalam kehidupan orang percaya, pride dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus.
Dalam pelayanan rohani, seseorang mungkin mulai mencari pengakuan melalui apa yang ia lakukan. Ia dapat merasa bangga dengan pelayanannya atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Tanpa disadari, pelayanan yang seharusnya dilakukan untuk memuliakan Tuhan dapat berubah menjadi sarana untuk meninggikan diri. Para santo sering memperingatkan bahaya kesombongan rohani ini. Banyak penulis spiritualitas menekankan bahwa semakin seseorang bertumbuh dalam kehidupan iman, semakin ia perlu menjaga kerendahan hati agar tidak jatuh dalam pride.
Dampak pride dalam kehidupan
Pride tidak hanya memengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan sesama. Orang yang dipenuhi oleh pride sering sulit menerima kritik dan sulit mengakui kesalahan. Ia mungkin merasa bahwa pendapatnya selalu benar dan tidak mudah menerima pandangan orang lain.
Sikap seperti ini dapat menimbulkan konflik dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan gereja. Pride membuat seseorang sulit bekerja sama dengan orang lain karena ia merasa lebih tahu atau lebih mampu.
Alkitab juga berulang kali memperingatkan bahwa pride membawa manusia menuju kehancuran. Ketika seseorang terlalu meninggikan dirinya, ia menjadi kurang peka terhadap kelemahannya sendiri. Hal ini sering menjadi awal dari kejatuhan dalam dosa atau rusaknya relasi dengan Tuhan dan sesama.
Humility sebagai jalan kehidupan
Jika pride adalah akar dari banyak dosa, maka humility adalah dasar dari banyak kebajikan. Kerendahan hati membantu manusia melihat dirinya secara jujur di hadapan Tuhan.
Humility bukan berarti merasa diri tidak berharga. Sebaliknya, humility berarti menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah Tuhan. Kesadaran ini membuat seseorang tidak terobsesi dengan dirinya sendiri dan lebih mampu menghargai orang lain.
Teladan terbesar dari humility adalah Yesus Kristus. Walaupun Ia adalah Tuhan, Ia datang ke dunia sebagai manusia dan hidup sebagai seorang hamba. Ia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani.
Salah satu tindakan yang paling menggambarkan kerendahan hati Yesus adalah ketika Ia mencuci kaki para murid-Nya. Pada masa itu, mencuci kaki adalah tugas seorang pelayan. Namun Yesus melakukan hal itu untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dalam kerajaan Allah adalah kepemimpinan yang melayani. Melalui kehidupan dan pengorbanan-Nya di kayu salib, Yesus menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah jalan kasih dan ketaatan kepada Tuhan.
Kesimpulan
Pride adalah salah satu dosa yang paling halus sekaligus paling berbahaya dalam kehidupan manusia. Ia dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sikap merasa mandiri tanpa Tuhan hingga kecenderungan merendahkan orang lain.
Kesombongan membuat manusia menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan dan menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, humility membantu manusia menyadari bahwa hidupnya bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Tuhan.
Dengan mengikuti teladan Yesus Kristus, orang percaya dipanggil untuk meninggalkan pride dan bertumbuh dalam kerendahan hati. Melalui humility, manusia dapat hidup dalam hubungan yang lebih benar dengan Tuhan dan sesama.
Ringkasan
- Pride adalah sikap meninggikan diri yang oleh banyak Bapa Gereja dianggap sebagai akar dari berbagai dosa.
- Pride dapat muncul dalam bentuk yang halus seperti self-sufficiency, self-importance, dan sikap merendahkan orang lain.
- Humility menolong manusia menyadari bahwa hidupnya bergantung pada Tuhan dan menjadi dasar bagi pertumbuhan rohani serta hubungan yang sehat dengan sesama.
Reflection Questions
- Dalam kehidupan sehari-hari, di situasi apa kamu paling mudah merasa sombong atau ingin menonjolkan diri?
- Dari tiga jenis bentuk halus yang muncul dari pride, manakah yang kamu paling sering temukan dalam diri sendiri? Sharingkan!
- Apakah ada teladan kerendahan hati yang menginspirasi kamu untuk meniru dalam pelayanan atau hubungan dengan orang lain?
- Apa satu langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini untuk menumbuhkan kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, pekerjaan, maupun komunitas?
Sources: https://www.cslewisinstitute.org/resources/pride-and-humility/