It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
Hari ini kita akan melihat bagaimana Petrus yang tadinya hanya seorang nelayan mampu berkata-kata dengan penuh karisma dan memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Mesias setelah ia diurapi dengan Roh Kudus.
Di dunia yang semakin permisif dan relatif, kata “pertobatan” sering terdengar keras dan tidak nyaman. Dunia berkata, “Terimalah dirimu apa adanya.” Namun Yesus memulai pewartaan-Nya dengan seruan yang radikal:
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15)
Yesus tidak datang untuk sekedar menghibur, tetapi untuk menyelamatkan. Ia tidak hanya menawarkan afirmasi, tetapi transformasi. Pertobatan bukan ancaman — melainkan undangan kasih untuk kembali kepada Allah. Seruan ini bukan hanya untuk orang berdosa besar. Ini adalah panggilan bagi setiap murid, setiap hari.
“Makam itu kosong! Kristus telah bangkit!” Kita sering mendengar seruan-seruan ini selama masa Paskah, dan sebagian dari kita mungkin merasa bahwa ini hanyalah sekedar sapaan yang mengingatkan bahwa kita kembali berada dalam masa Paskah. Namun, marilah kita berhenti sejenak dan merenungkan apa makna dibalik kata-kata itu.
Sebagai umat Katolik, kita sering menjumpai pertanyaan atau kritik mengenai praktik puasa, pantang, dan penggunaan abu yang dianggap "kuno" atau bahkan "tidak alkitabiah." Sangat penting bagi kita untuk mempelajari apologetika atas topik-topik ini agar kita tidak sekadar ikut-ikutan menjalani tradisi tanpa mengerti maknanya. Berikut ini ada beberapa argumen yang sering dipakai untuk mempertanyakan ataupun menentang praktik Gereja Katolik, dan seringkali argumen ini menggunakan referensi Alkitab, tetapi digunakan diluar konteks.
Banyak orang sering kali tidak menantikan masa Prapaskah. Kenangan masa kecil tentang harus berpantang permen atau mengikuti Jalan Salib setiap minggu langsung terlintas di pikiran. Kata-kata seperti “pengorbanan,” “disiplin,” dan “penyangkalan diri” sering digunakan dengan cara yang membuat Prapaskah terasa seperti sesuatu yang harus dijalani dengan berat, bukan sebagai waktu rahmat dan pertumbuhan rohani.
Ada pepatah dalam bahasa Spanyol, “Jika ingin mengenal seseorang, perhatikan sahabat-sahabatnya.” Dalam upaya kita untuk mencapai segala hal yang baik—misalnya kebugaran jasmani, prestasi di tempat kerja dan sekolah, atau keakraban keluarga—kita memerlukan dukungan yang solid dari sahabat-sahabat terdekat. Jadi, bagaimana kita dapat membangun persahabatan yang sejati?