It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
Masih di dalam tema stigmata seperti di minggu lalu, kali ini kita mau membaca beberapa penggalan kisah dari seorang santo besar yang hidup pada abad ke 20. Santo Pio dari Pietrelcina (Padre Pio) menanggung luka-luka Kristus dalam tubuhnya sendiri selama 50 tahun. Mungkin banyak dari kita yang sering kali mendengar namanya, tetapi masih belum mengenal cerita atau riwayat hidupnya. Oleh karena itu di sesi CG kali ini, kita mau belajar dan memperdalam iman kepercayaan kita dengan mengenal sedikit kisah-kisah dari kehidupan Padre Pio.
Hari ini kita akan membahas tentang salah satu misteri atau keajaiban di Gereja Katolik, yaitu tentang Stigmata. Kita akan membahas apa itu Stigmata dan membaca kisah singkat beberapa Santo/Santa dan orang-orang kudus yang mempunyai Stigmata.
Dua minggu yang lalu kita telah mengenal Jalan Salib, mulai dari latar belakang, isi doa dan penjelasannya. Menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah cukup mengenal Doa Jalan Salib dan mendoakannya setahun sekali di gereja bersama sama?
Apakah jalan salib dan apa yang bisa kita pelajari dari jalan salib?
Jalan Salib, juga dikenal sebagai “Via Dolorosa”, adalah narasi dari “final hour” kehidupan Yesus Kristus di dunia yang terus memberikan keyakinan spiritual untuk setiap orang mengaplikasikan dalam kehidupan. Jalan Salib berfungsi sebagai pengingat kerendahan hati Yesus yang bersedia mengesampingkan ketuhanan-Nya untuk memberikan jalan keselamatan melalui pengorbanan-Nya. Jalan salib yang akan kita bahas hari ini berdasarkan “scriptural station of the cross” (Lihat bahan 2 minggu lalu untuk definisinya).
Jalan salib merupakan salah satu devosi yang paling populer dalam gereja katolik. Ke empat belas perhentian jalan salib dapat ditemukan di hampir seluruh gereja katolik saat ini. Devosi ini terutama dilakukan pada masa pra-Paskah. Pada CG kali ini, kita akan belajar lebih jauh tentang asal usul jalan salib, dan bagaimana devosi ini berkembang hingga saat ini.
Mungkin banyak dari kita yang mengasosiasikan kata “kemurnian (chastity)” dengan artinya yang paling dasar yaitu pantang berhubungan seks. Tetapi sebenarnya ada makna yang lebih dalam dari itu dan banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa tentang kemurnian (chastity) ada diajarkan di dalam Kitab Suci dan KGK (Katekismus Gereja Katolik). Lalu kita pun bertanya apa pentingnya sih ‘kemurnian’ sampai Gereja merasa perlu untuk mengajarkannya? Jawabannya singkat: karena kemurnian berhubungan erat dengan kebahagiaan kita! Di sesi CG hari ini, kita akan membahas bagaimana manusia bisa mendapatkan kebahagiaan dengan hidup yang murni.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwaTuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya
Salah satu hal yang sangat ditekankan dan menjadi prioritas dalam semua pengajaran iman Katolik adalah tentang Roh Kudus. Pengajaran tentang Roh Kudus sangat ditekankan karena tentang hal ini sendiri pernah menimbulkan pelbagai pemahaman yang keliru, yang mengakibatkan munculnya teori-teori yang sama sekali menyimpang dari ajaran Gereja yang sebenarnya.
Pada sesi Desember tahun lalu, kita pernah membahas tentang sakramental, apa artinya, bagaimana penggunaannya dan persepsi yang kita dapat dari menggunakan sakramental. Pada sesi kali ini, kita akan membahas skapulir sebagai sakramental.
Semua umat beriman yang telah dibaptis telah mempunyai Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus. Yang menjadi masalah adalah, apakah karunia Roh Kudus ini disadari dan mewarnai kehidupan umat beriman, sehingga dapat dikatakan bahwa Roh Kudus sungguh nyata di dalam kehidupan mereka. Dengan merenungkan bahwa karunia Roh Kudus ini telah diberikan kepada kita pada saat Pembaptisan dan dikuatkan dalam Krisma, kita dapat bekerja sama dengan ketujuh karunia Roh Kudus ini, agar membawa buah-buahnya dalam kehidupan kita dan membekali kita untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Surga.