It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
It is written, ‘Man shall not live by bread alone, but by every word that comes from the mouth of God.’
Banyak orang sering kali tidak menantikan masa Prapaskah. Kenangan masa kecil tentang harus berpantang permen atau mengikuti Jalan Salib setiap minggu langsung terlintas di pikiran. Kata-kata seperti “pengorbanan,” “disiplin,” dan “penyangkalan diri” sering digunakan dengan cara yang membuat Prapaskah terasa seperti sesuatu yang harus dijalani dengan berat, bukan sebagai waktu rahmat dan pertumbuhan rohani.
Ada pepatah dalam bahasa Spanyol, “Jika ingin mengenal seseorang, perhatikan sahabat-sahabatnya.” Dalam upaya kita untuk mencapai segala hal yang baik—misalnya kebugaran jasmani, prestasi di tempat kerja dan sekolah, atau keakraban keluarga—kita memerlukan dukungan yang solid dari sahabat-sahabat terdekat. Jadi, bagaimana kita dapat membangun persahabatan yang sejati?
Wah tidak terasa sudah bulan Februari saja nih. Apakah kalian ada rencana untuk Valentine’s Day? Atau cuma seperti hari biasa lainnya? Biasanya ini saat-saat di mana banyak dekorasi bunga dan coklat serta promosi-promosi makanan serta entertainment bermunculan untuk pasangan dan keluarga. Buat yang sudah berpasangan atau berkeluarga, bulan kasih sayang ini mungkin dilihat sebagai pengingat untuk menunjukkan kasih sayang dan memberikan apresiasi kepada pasangannya masing-masing.
Nah, terus gimana dong yang masih single? Sendirian doang makan Indomie sambil merenungi nasib? Apakah jomblo atau single itu berarti ada yang kurang dalam hidup? Apakah ini artinya yang single tidak pernah menemukan tulang rusuk pasangannya?
Di CG hari ini, kita akan belajar mengenai jomblo atau single menurut ajaran Katolik dan bagaimana kita yang single juga bisa mempraktekkan kemurnian (chastity) dalam hidup kita.
Di dunia yang semakin bising dan terpecah, manusia terus mencari damai — dalam kesuksesan, hubungan, atau pencapaian pribadi. Namun, dunia hanya mampu menawarkan kedamaian yang sementara, bukan damai sejati. Kristus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu; bukan seperti yang diberikan dunia ini” (Yoh 14:27).
St. Francis of Assisi adalah saksi hidup dari damai Kristus yang sejati. Ia meninggalkan kekayaan, kuasa, dan kemuliaan dunia untuk menjadi “pembawa damai Allah” di tengah kekacauan zamannya. Bagi St. Francis, damai adalah buah dari pertobatan radikal dan kasih murni kepada Allah dan semua ciptaan.
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yoh 14:27) Kata-kata ini merupakan bagian dari “amanat perpisahan” Kristus yang disampaikan kepada para murid sesaat setelah Perjamuan Terakhir dan sebelum penyaliban.
Jika dilihat semata-mata dari sudut pandang manusia, kita mungkin tergoda untuk memandang damai sejahtera hanya sebagai ketiadaan pertikaian atau konflik. Namun Kristus secara khusus mengatakan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya “tidak seperti yang diberikan oleh dunia.” Maka, pastilah damai itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mari kita bahas apa itu makna perdamaian yang disampaikan oleh Yesus dalam CG hari ini.
Dalam CG hari ini kita akan mengambil sepenggal kisah dari injil Lukas tentang kelahiran Yesus di Betlehem. Dari penggalan kisah ini, kita mau belajar sedikit lebih details beberapa ayat dan juga bagaimana interpretasi dari kisah tersebut (bible study). Mungkin banyak dari kita yang jarang atau bahkan belum pernah membaca dan mencoba mengerti Alkitab dengan cara seperti ini, karena biasanya kita lebih menggunakan Kitab Suci untuk merenung dan merefleksikannya untuk aplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari (bible sharing).
Di antara semua tokoh dalam Injil, tidak ada dua figur yang mencerminkan dinamika jatuh dan harapan seperti Petrus dan Yudas. Keduanya adalah murid Yesus. Keduanya jatuh. Keduanya menyesal. Tetapi nasib mereka berbeda karena satu hal: bagaimana mereka menanggapi rahmat setelah jatuh.