Intro
Bahan hari ini diambil dari Kitab Pengkhotbah dimana kata “vanity” (kesia-siaan) muncul 37 kali. Dalam bahasa Ibrani, kata hebel (yang sering diterjemahkan sebagai “kesia-siaan”) secara harafiah berarti “napas” atau “angin ringan”, dan menggambarkan sesuatu yang:
1. Cepat berlalu dan lenyap;
2. Tidak menghasilkan apa pun, atau hasilnya tidak sepadan;
3. Tidak memuaskan hati manusia yang secara alami merindukan hal-hal yang kekal dan bermakna;
4. Digunakan juga untuk menyebut berhala, sebagai lawan dari Allah yang Hidup, Kekal, dan Mahakuasa, sehingga dalam pemahaman Ibrani, hebel dikaitkan dengan dosa.
Pengkhotbah 1:2-3 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
Dalam masyarakat modern, kesuksesan seringkali diidentikkan dengan pencapaian materiil dan status sosial. Orang yang dianggap sukses biasanya adalah mereka yang memiliki karir cemerlang, penghasilan tinggi, rumah mewah, atau popularitas. Media sosial dan budaya konsumerisme turut memperkuat pandangan ini, sehingga banyak individu mengejar standar eksternal tersebut sebagai tolak ukur kebahagiaan dan nilai diri tetapi sayangnya banyak orang tetap tidak menemukan kebahagiaan itu.
Di masa kini, semakin banyak orang juga mulai memahami pentingnya mencintai diri sendiri, yang tercermin dari perhatian terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Gaya hidup sehat menjadi prioritas, dengan menjaga pola tidur, berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi. Orang juga menyadari pentingnya waktu untuk beristirahat, berlibur, dan menjalin hubungan hangat dengan keluarga. Namun, meskipun semua ini dilakukan, tidak selalu menjamin tercapainya kebahagiaan yang sejati karena kebahagiaan tidak hanya bergantung pada kondisi fisik dan rutinitas.
Kitab Pengkhotbah membuka mata kita terhadap kenyataan hidup: segala sesuatu di dunia ini fana dan tidak selalu memberi kepuasan yang sejati. Penulis kitab ini mengamati segala aspek kehidupan—hikmat, pekerjaan, kekayaan, kesenangan, dan status sosial. Ia menemukan bahwa semuanya bersifat sementara dan tetap merasa hampa. Bahkan pencapaian besar pun akan berlalu, dan manusia tetap akan mati, tanpa bisa membawa apapun dari dunia ini.
Oleh karena itu, penulisnya membuka kitab ini dengan pernyataan mengejutkan: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia!” (Pkh 1:2). Ini bukan seruan putus asa, melainkan undangan untuk merenungkan: Apa yang sebenarnya bernilai dalam hidup? Bagaimana kita membuat hidup kita bermakna dan mendapatkan kebahagiaan yang sejati? Jawabannya dapat kita temukan di akhir kitab Pengkhotbah.
Pengkhotbah 12:13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.
Penulis kitab ini menekankan pentingnya takut akan Allah, menikmati anugerah kecil setiap hari (seperti makan, minum, dan bekerja) sebagai pemberian Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhanlah yang memberi makna sejati. Kesuksesan tanpa Tuhan adalah kosong. Hidup yang bermakna bukan ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh siapa yang kita layani. Kitab Pengkhotbah menantang kita untuk tidak terjebak pada ambisi duniawi, tetapi menaruh harapan pada Tuhan yang kekal.
Di dalam kitab ini juga diajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki waktunya masing-masing, dan tidak ada satupun yang terjadi di luar kendali Tuhan. Penulis menunjukkan berbagai momen kehidupan—baik sukacita maupun kesedihan—sebagai bagian dari siklus yang Tuhan ijinkan terjadi. Dengan menyadari bahwa hidup bergerak dalam musim-musim, kita diajak untuk tidak terburu-buru atau frustrasi, melainkan belajar menerima dan memahami bahwa segala sesuatu terjadi dalam waktu yang tepat menurut kehendak-Nya. Manusia tidak dapat sepenuhnya memahami rancangan Tuhan dari awal sampai akhir tetapi kita diingatkan untuk mempercayai rencana Allah dan tetap bersyukur serta berharap pada-Nya, karena segala sesuatu yang dilakukan-Nya indah pada waktunya. Tuhan juga memberikan panggilan untuk kita masing-masing yang perlu kita jalani untuk membuat hidup kita semakin bermakna.
Lalu, apakah kita masih perlu berdoa jika semua yang akan terjadi telah diatur oleh Tuhan? Jawabannya tentu saja. Kita perlu berdoa bukan hanya karena kita ingin meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi karena doa adalah sarana untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan-Nya. Meskipun Tuhan Mahatahu dan rencana-Nya tidak bergantung pada kehendak manusia, doa tetap penting karena melalui doa, kita belajar untuk selaras dengan kehendak-Nya dan mengetahui panggilan-Nya untuk kita. Doa sejati bukan sekadar sarana untuk mengajukan permohonan, tetapi merupakan kesempatan untuk membuka hati dan mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada kita.
Tuhan selalu menjawab doa kita, walaupun jawaban Tuhan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di bawah ini adalah beberapa hal yang seharusnya kita lakukan ketika kita berdoa:
1. Doa kita harus berlandaskan iman akan Tuhan (Mat 21:22, Mrk 11:24)
2. Kita harus meminta di dalam nama Yesus (Yoh 16:24)
3. Kita harus meminta dengan motivasi yang benar (Yak 4:3)
4. Kita harus selalu menggantungkan diri pada Tuhan (Mat 7:8, Luk 1:10)
5. Kita harus mengingat dan mematuhi perintah-perintah-Nya (1 Yoh 3:22)
6. Doa kita harus selaras dengan kehendak Tuhan (1 Yoh 5:14)
7. Carilah dulu kehendak Tuhan (Mat 6:33)
Perlu kita sadari juga bahwa kesenangan sejati dan kemampuan untuk menikmati hidup adalah pemberian dari Allah. Tanpa Tuhan, manusia tidak dapat merasakan kepuasan sejati dalam makan, minum, atau bersukacita atas hasil jerih payahnya. Tuhan memberikan hikmat, pengetahuan, dan sukacita kepada orang yang berkenan di hadapan-Nya, Jika kita memiliki hubungan yang benar dengan Allah, maka kita akan merasa hidup kita bermakna dan bahagia walau dalam kondisi apapun.
Hidup yang bermakna bukanlah soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar dampak yang kita berikan bagi orang lain dan bagaimana kita menjalaninya dengan tujuan yang benar. Berikut adalah beberapa cara untuk mencapai hidup yang bermakna (tidak merasa sia-sia):
1. Mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai pusat hidup
2. Bersyukur atas semua yang diberikan
3. Memupuk kerendahan hati (semakin cepat kita mengendalikan kesombongan, semakin cepat pula kita hidup hanya untuk Kristus)
4. Menjaga kemurnian niat (lakukan perbuatan baik dengan motivasi yang benar, bukan untuk mencari pujian dari orang lain)
5. Mengembangkan kasih kepada Kristus dalam sesama
Kesimpulan
Pengkhotbah tidak ditulis untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita sadar: hidup yang sejati adalah hidup yang dijalani dengan takut akan Tuhan dan menikmati berkat-Nya dengan syukur. Di tengah tuntutan zaman, kita diajak bertanya: Apakah yang benar-benar penting dalam hidupku? Untuk siapa aku hidup? Jangan sampai kita menghabiskan waktu mengejar hal-hal yang kosong, dan justru lupa pada Sang Pemberi hidup.
Sharing Questions
1. Apa hal yang kamu kejar akhir-akhir ini? Apakah kamu melibatkan Tuhan dalam proses pencapaiannya?
2. Sharingkan pengalamanmu merasakan kehampaan/kebosanan di dalam hidup walaupun mungkin kamu memiliki semua yang kamu inginkan. Bagaimana kamu mengatasi kondisi ini?
3. Sharingkan satu hal yang kamu syukuri di minggu ini—tidak harus sesuatu yang besar, bisa juga hal sederhana yang memberi kesan atau kebahagiaan tersendiri.
Reference
Bible study sessions Book of Ecclesiastes by Fr Ambrose Vaz