Intro
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yoh 14:27) Kata-kata ini merupakan bagian dari “amanat perpisahan” Kristus yang disampaikan kepada para murid sesaat setelah Perjamuan Terakhir dan sebelum penyaliban.
Jika dilihat semata-mata dari sudut pandang manusia, kita mungkin tergoda untuk memandang damai sejahtera hanya sebagai ketiadaan pertikaian atau konflik. Namun Kristus secara khusus mengatakan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya “tidak seperti yang diberikan oleh dunia.” Maka, pastilah damai itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mari kita bahas apa itu makna perdamaian yang disampaikan oleh Yesus dalam CG hari ini.
Damai menurut Pandangan Dunia
Damai sejahtera dapat dipahami dari dua sudut pandang. Pertama, damai di dalam jiwa, dan kedua, damai lahiriah atau damai dalam masyarakat.
Salah satu pandangan yang sering kita dengar adalah bahwa kedamaian jiwa seseorang terdiri dari dua hal: (1) ia tidak diserang oleh godaan apa pun, dan karena itu, (2) ia tidak berjuang melawan pergulatan batin. Kehidupan rohaninya tenang, santai, menyenangkan, dan bebas dari masalah. Orang seperti ini bagaikan seseorang yang duduk di dalam helikopter yang sedang naik ke langit, tanpa usaha apapun ia akan sampai ke surga dengan damai sempurna. Akibatnya, ia tidak memiliki salib atau penderitaan. Ia tidak mengalami kesusahan akibat penyakit, kekurangan materi, atau kesulitan keluarga. Baginya, segala sesuatu berjalan dengan tenang dan tertib sempurna, tanpa konflik atau kesulitan yang menuntut perjuangan. Inilah konsep damai batin/jiwa yang umum saat ini.
Pandangan lain yang sering kita dengar mengenai kedamaian lahiriah/masyarakat adalah bahwa kedamaian lahiriah bukanlah hasil dari keadilan atau kebajikan, melainkan dari suatu kemakmuran yang bersifat materialistis. Yang paling penting adalah (1) kestabilan ekonomi, (2) rekening bank yang terpelihara dan terus bertambah, (3) jaminan pensiun, (4) rakyat yang cukup makan, dan (5) kenyamanan dan kesejahteraan harian yang terjamin. Tidak ada perselisihan mengenai urusan keuangan, semua orang hidup dengan gembira dan tanpa gangguan. Maka, bangsa itu dikatakan sebagai damai. Beberapa orang membayangkan bahwa, jika semua bangsa berada dalam keadaan bahagia seperti itu, tidak akan ada lagi konflik internasional, tak satupun negara ingin menyerang yang lain, dan umat manusia akan menikmati kehidupan yang tenang dan damai.
Damai menurut Pandangan Gereja
Apa itu damai menurut pandangan Gereja? Mari kita simak kutipan dari KGK ini.
KGK 2302 Ketika Yesus mengingatkan perintah: “Engkau tidak boleh membunuh”(1), Ia menuntut
perdamaian hati dan mengecam kemurkaan yang mematikan dan kebencian sebagai tak moral. Kemurkaan adalah keinginan membalas dendam. “Menghendaki dendam untuk orang yang harus dihukum, tidak diperbolehkan; tetapi menghendaki dendam sebagai siksa untuk kebiasaan buruk dan untuk mempertahankan keadilan, itu terpuji” (It is unlawful to desire vengeance considered as evil to the man who is to be punished, but it is praiseworthy to desire vengeance as a corrective of vice and for the good of justice) (2). Kemurkaan sekian besar, sehingga orang dengan sengaja hendak membunuh sesama, atau hendak melukainya, adalah kesalahan besar melawan cinta kasih, dan dengan demikian merupakan dosa berat. Tuhan mengatakan: “Setiap orang yang marah kepada saudaranya, harus dihukum” (3).
KGK 2303 Kebencian yang disengaja, melawan cinta kasih. Kebencian terhadap sesama adalah dosa, apabila
orang dengan sengaja mengharapkan yang jahat, baginya. Adalah dosa berat, apabila orang mengharapkan kerugian yang besar setelah dipikirkan baik-baik. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang ada di surga” (4).
KGK 2304 Supaya kehidupan manusia dihormati dan dapat berkembang, harus ada perdamaian. Perdamaian itu
tidak hanya berarti bahwa tidak ada perang; itu tidak hanya terjamin oleh keseimbangan kekuatan diantara musuh-musuh. Perdamaian di bumi baru ada, apabila milik pribadi terjamin, apabila orang dapat saling bergaul dengan bebas (free communication among men), apabila martabat manusia dan bangsa-bangsa dihormati, dan persaudaraan di antara manusia dipelihara. Perdamaian terdapat di dalam “keamanan dan ketertiban”(tranquillity of order) (5). Itulah karya keadilan (6) dan akibat cinta Kasih (7)
KGK 2305 Perdamaian duniawi adalah gambaran dan hasil perdamaian Kristus, Sang “Raja damai” mesianis
(8). Melalui darah-Nya yang tertumpah di salib, Ia telah “melenyapkan perseteruan di dalam diri-Nya” (9), memperdamaikan manusia dengan Allah dan membuat Gereja-Nya menjadi Sakramen kesatuan umat manusia dan persatuannya dengan Allah. “Ialah perdamaian kita”(10). Yesus menamakan “bahagia, orang yang membawa damai”(11).
Footnote
(1) Mat 5:21; (2) Thomas Aquinas, Summae Theologica, Part 2-2, Question 158, Article 1 Reply 3;
(3) Mat 5:22; (4) Mat 5:44-45; (5) Agustinus, City of God, Book 19, Chapter 13; (6) Bdk. Yes 32:17;
(7) Bdk. GS 78,1-2; (8) Yes 9:5; (9) Ef 2:16 Bdk. Kol 1:20-22; (10) Ef 2:14; (11) Bdk. Mat 5:9
Damai, Ketenangan, dan Keteraturan
St. Agustinus mendefinisikan “perdamaian” sebagai “ketenangan dari keteraturan” (the tranquillity of order). Ketiga unsur ini saling terkait erat — bahkan begitu erat sehingga hampir tidak dapat dipisahkan. Jika dipisahkan, ketenangan dan keteraturan cenderung berubah menjadi karikatur dari diri mereka sendiri (representasi diri yang berlebihan dan terdistorsi).
Keteraturan (order) adalah susunan yang benar dari segala sesuatu sesuai dengan hakikat dan tujuannya. Kita menemukan gambaran prinsip ini dalam organisasi tubuh manusia yang kaya dan kompleks. Di dalamnya, setiap sistem memiliki tujuan, sesuai dengan organ-organ yang menyusunnya; organ-organ ini, pada gilirannya, bergantung pada fungsi yang tepat dari jaringan dan sel. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa tubuh manusia tertata rapi karena bagian-bagiannya memiliki fungsi dan tujuan yang berkontribusi pada kebaikan keseluruhan.
Keteraturan harus mendukung kebebasan yang tenang dari setiap bagian (Order must favour the tranquil freedom of the parts). Misalnya, di suatu negara di mana warga selalu diawasi dan hukum ditegakkan di bawah bayang-bayang ketakutan, keteraturan yang tercipta bersifat keras dan karenanya tidak stabil. Keteraturan tidak menghasilkan perdamaian karena kekurangan ketenangan.
Ketenangan sejati dapat didefinisikan sebagai kesunyian dan ketenteraman yang muncul dari kepuasan terhadap situasi seseorang. Hal ini tidak datang dari kemalasan, kemanjaan, atau stagnasi, tetapi karena seseorang menjalankan tujuan yang dimilikinya dalam situasi itu. Inilah yang dialami oleh: akal (intelligence) ketika mengetahui kebenaran (truth), kehendak (will) ketika memiliki kebaikan (good), atau seorang anak ketika berada dalam pelukan ibunya, karena ia “tahu” bahwa kebutuhannya akan terpenuhi dibawah perawatan ibunya.
Agar tercipta perdamaian yang sejati, ketenangan harus berasal dari keteraturan yang benar. Bukan tanpa alasan St. Agustinus mendefinisikan perdamaian sebagai ketenangan dari keteraturan. Jika tidak demikian, ketenangan dicari demi dirinya sendiri, dan yang ditemukan adalah ketenangan dalam kekacauan. Ini adalah keamanan semu, ketenangan yang menipu, damai palsu yang dibicarakan dalam Kitab Suci: damai para pendosa yang keras kepala yang tidak lagi merasakan sengatan penyesalan (bdk. Mazmur 73:4-9) dan berseru “Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera.” (Yeremia 6:14b).
Damai ilusi inilah yang berkuasa, misalnya, dalam sebuah keluarga di mana orang tua menuruti setiap kemauan anaknya dengan alasan palsu bahwa dengan cara ini mereka dapat “memiliki sedikit kedamaian,” atau, dalam damai semu di rawa-rawa di mana, dalam ketenangan tampak dari air yang tergenang dan busuk, berbagai organisme merugikan berkembang biak.
Pertempuran dan Kedamaian dalam Diri
Kehidupan manusia di bumi, seperti yang kita semua ketahui, adalah perjuangan yang tiada henti, dan pertempuran utama terjadi di dalam diri kita sendiri. Hasrat-hasrat berperang melawan kita, dan sering kali kita tidak melakukan kebaikan yang kita inginkan, melainkan kejahatan yang justru menarik perhatian kita. Di sisi lain, dalam tabernakel jiwa kita, Allah hadir melalui rahmat dan menegur kita melalui suara hati nurani. Hukum-hukum roh dan daging saling bertentangan di medan perang yang adalah diri kita sendiri.
Pertempuran ini diperparah oleh penyakit, kesulitan, salah paham, dan berbagai mara bahaya lainnya. Akibatnya, perasaan-perasaan yang umum muncul pada manusia ketika mereka tidak menanggapi kesusahan dengan baik pun mudah muncul dalam diri kita seperti kelelahan, kepenatan, putus asa, kebosanan, depresi, dan kegelisahan.
Namun, jiwa yang sepenuhnya terbuka terhadap Roh Kudus memiliki sikap yang berbeda. Mereka yang mencintai Allah semata tidak terganggu oleh apa pun karena, seperti St. Paulus, mereka menganggap segala sesuatu sebagai sampah dibandingkan dengan kebaikan tertinggi yaitu memperoleh Kristus dan ditemukan di dalam-Nya (bdk. Flp 3:8-9).
Sejalan dengan itu, Pemazmur menyanyi: “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan.” (Mzm 119:1). Tidak ada yang dapat mengguncang rasa aman mereka yang mengetahui bahwa mereka berada di dalam hadirat Yang Mahakuasa: “Jika Allah mendukung kita, siapakah yang menentang kita?” (Rm 8:31).
Penutup
Sungguh aneh ketika kita mulai membahas tentang damai, kita justru berakhir dengan membicarakan tentang perang. Dua pihak yang saling berlawanan berjuang untuk memperoleh kekuasaan di dalam hati manusia: di satu sisi, Tuhan kita Yesus Kristus menawarkan satu-satunya damai sejati; di sisi lain, dunia, dengan segala kebohongan dan ilusi, berusaha menjerumuskannya menuju kebinasaan dengan menampilkan tiruan palsu dari damai itu.
Namun, kedua pihak ini tidak hanya berbeda dalam anugerah yang mereka tawarkan, tetapi juga dalam cara yang mereka tempuh untuk mencapai tujuan mereka. Jalan apa yang disarankan iblis untuk memperoleh perdamaian dunia? Dan cara apa yang ditawarkan Kristus kepada kita? Semoga pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi pertanyaan pembimbing dalam hidup kita di tahun 2026 ini.
Sharing Questions
- Bagaimana pandanganmu mengenai kedamaian berubah setelah membaca materi diatas? Sharingkan!
- Apa yang akan/sudah kamu lakukan untuk mengusahakan kedamaian di dalam hidupmu?
- Dalam hidupmu, pernahkah ada pertempuran batin antara kebaikan dan kejahatan? Sharingkan!
Reference
https://catholicmagazine.news/the-peace-of-christ-and-the-peace-of-the-world/
https://www.vermontcatholic.org/vermont/peace-the-tranquility-of-order/