Intro
Ada pepatah dalam bahasa Spanyol, “Jika ingin mengenal seseorang, perhatikan sahabat-sahabatnya.” Dalam upaya kita untuk mencapai segala hal yang baik—misalnya kebugaran jasmani, prestasi di tempat kerja dan sekolah, atau keakraban keluarga—kita memerlukan dukungan yang solid dari sahabat-sahabat terdekat. Jadi, bagaimana kita dapat membangun persahabatan yang sejati?
Aristoteles menguraikan tiga jenis persahabatan:
Jenis pertama adalah persahabatan yang menyenangkan (pleasant friendship), yang pada dasarnya adalah sahabat-sahabat yang “bersenang-senang bersama.” Mungkin mereka menyukai hobi atau kegiatan yang sama. Tidak ada yang salah dengan jenis persahabatan ini—hanya saja mereka dipersatukan oleh kesenangan atau “waktu yang baik” yang dirasakan bersama.
Jenis persahabatan yang kedua adalah persahabatan karena kegunaan (friendship of utility). Sekali lagi, tidak ada yang sebenarnya salah dengan bentuk persahabatan ini. Hubungan dibangun atas fondasi keuntungan yang bisa diterima dari satu sama lain—seperti hubungan dengan mitra bisnis (atau mungkin dengan teman-teman group project). Seperti di atas, jika keuntungan yang bersifat timbal balik itu ditiadakan, maka alasan untuk bersatu hilang, dan persahabatan itu akhirnya sirna.
Terakhir adalah persahabatan yang saleh (virtuous friendship)—orang-orang yang dalam pertandingan kehidupan ini seperti workout partner kita. Persahabatan ini disatukan oleh pengejaran tujuan bersama, yaitu “kehidupan yang baik” bukan hanya dalam dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal. Persahabatan ini mengejar sesuatu diluar diri individu yang melampaui minat pribadi, berbeda dengan dua persahabatan sebelumnya dimana hal yang dikejar atau dijadikan tujuan adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri. Tujuan bersama ini, yang adalah kebaikan yang lebih tinggi nilainya, adalah hal yang menyatukan kedua individu.
Persahabatan yang Saleh
Dalam persahabatan yang saleh, setiap orang berusaha membantu yang lain mencapai potensi mereka yang sesungguhnya. Potensi yang dibahas disini bukan semata-mata bakat dan keunggulan yang bisa dinilai oleh kita manusia (misalnya bakat musik, kemampuan berstrategi atau kecerdasan emosional), tetapi berakar pada identitas pertama kita sebagai anak Allah yang dikasihi-Nya (beloved) dan diciptakan Allah menurut gambaran-Nya (Kej 1:27). Di tengah hiruk pikuk kehidupan dan kompetisi sengit dalam masyarakat, mungkin kita sering lupa akan kebenaran ini. Sahabat yang saleh akan mengingatkan betapa berharganya kita di mata Tuhan, misalnya dengan kepekaan dan kehadiran (presence) mereka ketika kita sedang melalui masa-masa senang dan susah, words of affirmation mereka yang senantiasa memberi semangat.
Sahabat yang saleh, karena kasihnya yang begitu besar, juga akan bersedia menantang (challenge) kita ketika diperlukan agar kita bisa tumbuh dalam kebajikan (virtues) dan karakter. Misalnya, seorang sahabat mungkin men-challenge kita untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab, atau untuk berani terus terang tentang hal yang tidak disenangi daripada bergosip. Seorang sahabat yang saleh berani menantang sahabatnya bukan karena semata-mata ingin ‘memperbaiki’ orang tersebut menurut idealnya, tapi karena sungguh-sungguh peduli dan mengharapkan yang terbaik bagi sahabatnya. Ini sejalan dengan ajaran Aristoteles, bahwa kasih sejati adalah mengharapkan kebaikan orang tersebut (true love is to will the good of the other).
Kemurnian dalam Persahabatan
Dari minggu lalu, kita belajar bahwa kemurnian mendorong kita untuk memandang satu sama lain sebagai pria dan wanita secara utuh dengan akal budi, jiwa, dan tubuh.
Melalui ajaran tersebut dan penguraian tentang persahabatan di minggu ini, ada yang bisa kita refleksikan mengenai kemurnian dalam hubungan: jika kita benar-benar peduli kepada seseorang, kita harus bertanya kepada diri sendiri—apakah tindakan saya membawa orang ini mendekat atau menjauh dari Tuhan, mendekat atau menjauh dari apa yang benar-benar terbaik baginya? Jika kita tidak membantu sahabat kita mencapai tujuan mereka yang sesungguhnya dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang, maka kasih kita mungkin sifatnya lebih melayani diri sendiri (self-serving) daripada memberikan diri (self-giving). Mungkin yang kita cari dari orang tersebut hanyalah suatu pengalaman emosional atau fisik—orang lain menjadi sekadar kesempatan bagi saya untuk mencapai kepuasan ini dan bukannya seseorang yang benar-benar saya kasihi. Di sisi lain, jika seseorang bersedia memprioritaskan kemurnian dan kekudusan sahabatnya di atas keinginan mereka sendiri, pengorbanan apa yang tidak akan mereka lakukan untuk sahabat tersebut?
Oleh karena itu, persahabatan saleh ini juga sepatutnya hadir dalam pernikahan dan keluarga. Tujuan bersama pada persahabatan ini melibatkan persatuan antar suami-istri, masing-masing saling membantu untuk tumbuh dalam kekudusan, dan prokreasi serta edukasi anak-anak. Suami dan istri harus bekerja sama dalam mencapai tujuan ini serta menundukkan preferensi pribadi terhadap tujuan bersama pernikahan ini. Dengan demikian, seseorang bisa menghindar untuk tidak jatuh hanya dalam prinsip utilitarianisme dimana orang lain digunakan hanya untuk memperoleh keuntungan (friendship of utility) ataupun kesenangan semata (pleasant friendship).
[Beberapa kutipan tentang persahabatan]
Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Yoh 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Ams 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
“Kasih memikul beban keinginan, penderitaan, kerugian, bahkan kesalahan orang lain.” – Venerable Fulton Sheen
“Kamu bisa mempercayai kami untuk tetap bersamamu dalam suka dan duka – hingga akhir yang pahit. Dan kamu bisa mempercayai kami untuk menjaga rahasia apapun milikmu – lebih lekat daripada kamu sendiri menjaganya. Tapi kamu tidak bisa mempercayai kami untuk membiarkanmu menghadapi masalah sendirian, dan pergi tanpa sepatah kata pun. Kami adalah sahabatmu, Frodo” – J.R.R. Tolkien, Lord of the Rings
Kesimpulan
- Tidak semua persahabatan itu sama: Aristoteles membedakan persahabatan berdasarkan kesenangan, kegunaan, dan persahabatan yang saleh—yang terakhir berakar pada tujuan bersama untuk mengejar kebaikan sejati dan kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
- Persahabatan yang saleh menumbuhkan kekudusan dan karakter: Sahabat sejati saling mengingatkan akan identitas sebagai anak Allah, hadir dalam suka dan duka, berani menantang dengan kasih, dan sungguh menghendaki kebaikan satu sama lain.
- Kemurnian adalah fondasi persahabatan sejati: Kasih yang murni memandang sahabat sebagai pribadi utuh, tidak menggunakan orang lain demi kesenangan atau keuntungan, serta membantu satu sama lain semakin dekat kepada Tuhan—baik dalam persahabatan maupun dalam pernikahan dan keluarga.
Sharing Questions
- Sharingkan poin yang menurutmu menarik dari bahan atau ceritakan pengalaman terkait tentang persahabatan. Apa kamu mempunyai penguraian lain mengenai persahabatan?
- Sharingkan apa saja yang bisa/sudah kamu lakukan untuk menjadi seorang sahabat yang saleh.
- Bagaimana kita bisa menjaga kemurnian dalam sebuah persahabatan?
- Bagaimana kamu bisa melibatkan Tuhan untuk memurnikan persahabatan-persahabatanmu dan menumbuhkan dirimu sebagai seorang sahabat bagi orang-orang terdekat?
Reference
https://chastity.com/2016/12/friends-with-true-benefits/
https://luxveritatis7.wordpress.com/2012/01/03/dasar-sebuah-persahabatan/
Life of the Beloved: Spiritual Living in a Secular World by Henri J.M. Nouwen