Sesi 28 - Week of 28 Jun 2026

12 Steps Up the Mountain of Pride


Intro

Pada abad ke-12, St. Bernardus dari Clairvaux mengidentifikasi dua belas langkah mendaki gunung kesombongan, dan dua belas langkah lainnya untuk turun. Hal ini dirinci dalam karyanya yang berjudul “The Steps of Humility and Pride”. 12 langkah kesombongan ini menjadi semakin serius seiring kita melaluinya dan pada akhirnya membawa kita pada perbudakan dosa.

Bahan

Berikut ini adalah 12 langkah mendaki gunung kesombongan. Anggaplah langkah-langkah ini seperti gejala yang terus meningkat:

1) Keingintahuan (Curiosity):

Ada yang namanya rasa ingin tahu yang sehat. Namun, keingintahuan juga dapat membawa pada dosa jika kita mendalami hal-hal yang tidak seharusnya, baik karena itu adalah urusan pribadi orang lain atau karena hal itu tidak baik untuk kita ketahui. Keingintahuan menjadi ternoda oleh kesombongan ketika kita membuang semua kehati-hatian. Dengan rasa sok tahu serta merasa istimewa, kita mengintip, mencampuri, dan menyelidiki hal-hal yang tidak boleh kita lakukan seolah-olah kita memiliki hak untuk melakukannya. Inilah keingintahuan yang berdosa.

Contoh: Nge-scroll media sosial tanpa henti, memiliki obsesi tidak sehat dengan kehidupan influencer atau selebriti

2) Pikiran dan sikap sembrono (Levity of Mind):

Kecenderungan untuk menyibukkan pikiran dengan hal-hal yang tidak pantas dapat tumbuh dan membawa pada kecenderungan untuk menjadi dangkal dalam pemikiran. Tentu ada rasa humor yang valid. Hiburan dan rekreasi juga penting untuk kehidupan yang seimbang. Namun, hal ini bisa menjadi satu-satunya hal yang kita lakukan, dan kita mungkin tergoda untuk mengesampingkan hal-hal yang seharusnya kita seriusi demi mengejar hal-hal yang ringan dan sepele saja. Ketika kita dengan ringan menepis apa yang penting bagi Tuhan dan menggantinya dengan kepentingan kita sendiri yang bodoh dan sepele, kita bertindak dalam kesombongan.

Contoh: Berjam-jam menonton sitcom dan reality show tetapi tidak ada waktu untuk berdoa, pengajaran iman, dan pengembangan intelektual

3) Suka bersenang-senang (Giddiness):

Orang ini selalu mencari kesenangan-kesenangannya dan menghindari kesusahan. Orang ini tidak lagi mengeluh atau bersedih, tetapi sudah melupakan kesalahan-kesalahannya. St. Bernardus mengatakan orang ini bertindak seperti seorang badut. Ia seperti pelawak yang memperhatikan penampilannya. Dia selalu siap untuk membuat lelucon dan tidak pernah melewatkan kesempatan tanpa tertawa, selalu menarik perhatian untuk tertawa dan membuat lelucon-lelucon. Dia tidak pernah mengingat-ingat sesuatu yang merendahkan dia dan karena itu tidak pernah memikirkan kegagalan atau apapun. Sebaliknya, orang seperti ini hanya mengarahkan pandangannya kepada jasa-jasanya sendiri dan senang sekali membicarakan dirinya sendiri. Dia hanya berpikir hal-hal yang menyenangkan dan tidak menahan tertawanya atau menyembunyikan kegembiraannya yang bodoh itu. St. Bernardus melambangkan orang pada tahap ini seperti balon yang besar, namun bila ditusuk cepat mengecil. Inilah gambaran orang yang mengisi pikirannya dengan sesuatu yang kosong dan murahan.

Contoh: Selalu siap untuk membuat lelucon dan tidak pernah melewatkan kesempatan tanpa tertawa

4) Suka Membual (Boasting):

Orang seperti ini tidak peduli dan tidak berminat untuk menambah pengetahuan orang lain tetapi lebih-lebih hanya untuk membual tentang dirinya sendiri untuk sekedar menunjukkan dirinya sendiri bahwa dia itu hebat. Biasanya ia tidak pernah bisa mendengarkan orang lain. Kalau orang mulai berbicara akan langsung dipotongnya untuk mendengarkan dia dan ia senang memberikan nasehat-nasehat. Pembual menilai dirinya terlalu tinggi dan mengklaim kualitas yang sebenarnya tidak ia miliki, atau lupa bahwa semua hal baik yang ia miliki adalah rahmat dan anugerah Allah. St. Paulus berkata, “Sebab siapakah yang menganggap engkau dikhususkan? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jikalau engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Kor 4:7).

Contoh: Memonopoli percakapan dengan pencapaian mereka untuk menuai pujian

5) Singularitas (Singularity):

Ironisnya, saat dunia kita menyusut, kita menganggap diri kita semakin besar. Seiring tumbuhnya kesombongan, kita terlalu mudah melupakan ketergantungan kita pada Tuhan dan orang lain atas siapa dan apa kita ini. Sebenarnya, tidak ada yang namanya “self-made man” (orang yang sukses semata karena usahanya sendiri). Kita semua adalah makhluk yang bergantung pada Tuhan dan orang lain. Oleh karena itu, dengan hanya mengandalkan nasihat kita sendiri, kita mengabaikan kenyataan dan berhenti mencari informasi serta nasihat dari orang lain.

Contoh: Merasa tidak perlu Tuhan untuk mencapai kesuksesan

6) Keangkuhan Diri/Suka Menerima Sanjungan-sanjungan (Self-conceit):

Saat dunia kita menjadi semakin kecil dan kesombongan kita semakin besar, fokus pada diri sendiri tumbuh semakin kuat dan kita menjadi semakin merujuk pada diri sendiri (self-referential). Sesuatu dianggap benar hanya karena kita menganggap itu benar. Demikian pula, kita menganggap diri kita baik karena kita mengatakannya baik. Kita menemukan kesalahan pada orang lain tetapi gagal melihatnya pada diri kita sendiri. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang kita pandang rendah dan menyerah pada kesombongan.

Contoh: Merasa cara doa sendiri paling benar dan menganggap cara berdoa yang lain/berbeda itu salah

7) Praduga (Presumption):

Pada tahap kesombongan ini, kita merasa bahkan penghakiman Tuhan pun kalah dari penghakiman kita. Kita menjadi percaya bahwa keselamatan adalah hak kita, tanpa peduli bagaimana cara kita hidup. Kita tidak perlu meminta bantuan Tuhan dalam mencapai kehidupan kekal.

Contoh: Sangat PD akan masuk surga tanpa perlu pengakuan dosa dan pertobatan

8) Pembenaran Diri (Self-justification):

Kita berpikir bahwa kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri dan sejujurnya, kita tidak butuh diselamatkan. Pembenaran diri adalah sikap yang mengatakan bahwa kita mampu, dengan kekuatan kita sendiri, untuk menyelamatkan diri kita sendiri. St. Paulus berkata, “Memang hatiku tidak menuduh aku sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.” (1 Kor 4:3-4). Namun orang sombong hanya peduli pada sudut pandang mereka sendiri dan menolak untuk bertanggung jawab bahkan kepada Tuhan. Orang yang sombong lupa bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi hakim bagi dirinya sendiri.

Contoh: membenarkan diri untuk meminum alkohol yang berlebihan karena Yesus juga minum anggur

9) Pengakuan Munafik (Hypocritical Confession):

Kata “munafik” dalam bahasa Yunani “hupokrithes” berarti “aktor” (pemeran). Terkadang menjadi rendah hati atau mengakui kesalahan kita bisa membawa keuntungan, dan orang yang munafik akan memanfaatkan kesempatan ini. Orang sombong hanyalah berakting, melakukan hal tertentu untuk mendapatkan pujian, bukannya penyesalan atau pertobatan yang nyata.

Contoh: Mengaku dosa dengan tidak tulus, tidak merasa bersalah, dan tidak melakukan pemulihan dosa (bahkan siap untuk mengulang dosa yang sama lagi)

10) Pemberontakan (Revolt):

Kesombongan benar-benar mulai lepas kendali ketika kita secara terbuka memberontak terhadap Tuhan dan perwakilan-Nya yang sah. Memberontak berarti melepaskan kesetiaan, pertanggungjawaban, atau ketaatan kepada Tuhan, Firman-Nya, atau Gereja-Nya. Menolak berada di bawah otoritas Gereja Katolik dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang ditegaskan oleh ajaran Katolik.

Contoh: Menolak aturan dan ajaran yang ditegaskan oleh Gereja Katolik

11) Kebebasan untuk Berdosa (Freedom to Sin):

Di sini kesombongan mencapai akhir perjalanannya saat ia dengan angkuh menegaskan dan merayakan bahwa ia sepenuhnya bebas untuk melakukan apa pun yang disukainya. Orang yang sombong semakin menolak pengekangan atau batasan apa pun. Namun kebebasan orang sombong sebenarnya bukanlah kebebasan sama sekali. KGK 1733: “Semakin ia melakukan yang baik, semakin bebas pula manusia. Kebebasan yang benar hanya terdapat dalam pengabdian kepada yang baik dan adil. Keputusan kepada ketidaktaatan dan kepada yang jahat adalah penyalahgunaan kebebasan dan membuat orang menjadi hamba dosa.” Tetapi orang yang sombong tidak mau menerima hal ini dan dengan angkuh terus menegaskan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka sukai, bahkan saat mereka turun semakin dalam ke dalam kecanduan dan perbudakan.

Contoh: Mengambil hari Minggu sebagai hak untuk melakukan apapun yang kita mau bukannya pergi ke Perayaan Ekaristi dan tidak merasa bersalah dengan keputusan tersebut

12) Kebiasaan Berdosa (The Habit of Sinning):

Di sini kita melihat bunga kesombongan yang penuh dan buruk: dosa yang menjadi kebiasaan dan perbudakan pada dosa. Seperti yang dijelaskan St. Agustinus: “Sebab dari kehendak yang menyimpang, lahirlah nafsu; dan nafsu yang dilayani, menjadi kebiasaan; dan kebiasaan yang tidak dilawan, menjadi keharusan. (Conf 8.5.10)

Contoh: Senantiasa dalam keadaan berdosa dan menolak untuk mengaku dosa atau berubah

Kesimpulan

Demikianlah kita telah mendaki dua belas langkah gunung kesombongan ini. Apakah ada jalan turun dari gunung kesombongan ini? Tentu saja. Kalian dapat mencari tahu lebih jauh mengenai 12 Langkah Keluar dari Kesombongan dan Masuk ke dalam Kerendahan Hati, dari St. Bernardus.

Ringkasan:

  • Ajaran tentang “12 Langkah Kesombongan” dicetuskan oleh St. Bernardus dari Clairvaux pada abad ke-12 sebagai gambaran gejala spiritual yang memburuk saat seseorang menjauh dari kerendahan hati.
  • Kesombongan dimulai dari ranah pikiran (seperti rasa ingin tahu yang salah dan pikiran dangkal), berkembang menjadi perilaku luar (membual dan merasa istimewa), hingga mencapai sikap hati yang mengabaikan otoritas Tuhan (pembenaran diri dan praduga).
  • Puncak dari 12 langkah ini adalah pemberontakan terbuka dan kebebasan palsu yang akhirnya menjerumuskan seseorang ke dalam perbudakan dosa serta kebiasaan buruk yang sulit dihentikan.

Sharing Questions:

  1. Dunia sering memuji sosok self-made man atau orang yang sukses karena usahanya sendiri. Dalam hal apa kamu merasa paling sulit untuk mengakui ketergantungan kepada Tuhan?
  2. Bagaimana kamu bisa melatih diri agar tidak mudah “menilai diri sendiri sebagai orang baik” dan tetap terbuka pada teguran dari Tuhan atau saudara seiman?
  3. Dari ke-12 gejala kesombongan di atas, langkah mana yang menurut kamu paling sering tidak disadari oleh orang Kristiani modern? Apa langkah praktis yang bisa kamu lakukan untuk tetap menjaga kerendahan hati?

Sources:

https://catholiceducation.org/en/religion-and-philosophy/the-twelve-steps-up-the-mountain-of-pride-according-to-st-bernard-of-clairvaux.html
https://www.carmelia.net/index.php/artikel/spiritualitas/171-tahap-tahap-kesombongan-ajaran-rohani-st-bernardus-dari-clairvaux