Sesi 20 - Week of 5 Apr 2026

Easter as a New Beginning


Intro

“Makam itu kosong! Kristus telah bangkit!” Kita sering mendengar seruan-seruan ini selama masa Paskah, dan sebagian dari kita mungkin merasa bahwa ini hanyalah sekedar sapaan yang mengingatkan bahwa kita kembali berada dalam masa Paskah. Namun, marilah kita berhenti sejenak dan merenungkan apa makna dibalik kata-kata itu.

Bahan

1. Memahami Kejadian Paskah

Pertama-tama kita harus memahami bahwa Paskah sungguh-sungguh terjadi. Kita percaya akan hal ini karena Kitab Suci Perjanjian Baru penuh dengan kesaksian para saksi mata. Kesaksian tersebut berulang kali menyatakan bahwa Yesus benar-benar wafat di kayu salib, dikuburkan, bangkit pada hari ketiga, dan bahwa Ia adalah Tuhan, Juruselamat, dan Putra Allah yang hidup.

Dalam perayaan Paskah ini, ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri: apakah para saksi itu dapat dipercaya? Tindakan-tindakan mereka setelah memberikan kesaksian bahwa Yesus telah bangkit itu menunjukkan bahwa mereka dapat dipercaya. Hampir semuanya menderita kematian sebagai martir daripada menyangkal apa yang telah mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri dan dengar dengan telinga mereka sendiri. Jika kita percaya bahwa kesaksian mereka dapat diandalkan, maka kita semua harus memberi perhatian yang jauh lebih besar pada iman kita kepada Yesus Kristus dan Gereja-Nya.

Bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi/merayakan Paskah itu sendiri? Apakah kita melihat Paskah sebagai sekedar festival dan hanya bersukacita karena mendapat tanggal merah atau liburan? Haruskah kita merayakan Paskah secara lebih serius atau sekedar kasual saja? Mari kita bahas lebih dalam lagi mengenai sikap kita dalam merayakan Paskah.

2. Tantangan dalam menjadi Orang Katolik di Masa Modern ini

Akhir-akhir ini, muncul suatu gerakan bernama “Katolik sekuler” yang perlahan-lahan menggantikan iman yang kuat dan penuh semangat yang kita terima dari orang tua kita. “Katolik sekuler” sendiri sebenarnya hanyalah gerakan sosial dan bukanlah agama yang lahir dari iman yang mendalam kepada Yesus Kristus sebagai Putra Allah. Mereka mengundang orang untuk memiliki hubungan yang santai dengan Gereja Katolik—Gereja yang didirikan Yesus bagi kita sebagai anugerah bagi segala zaman.

Umat Katolik yang bersikap sekuler cenderung bersikap santai dalam banyak hal. Mereka santai dalam kehadiran di gereja, santai dalam pentingnya kehidupan doa, santai terhadap perintah-perintah Allah, santai terhadap ajaran Gereja yang autentik, dan santai dalam cara mereka meneruskan iman kepada anak-anak mereka. Kata “santai” mungkin terdengar tidak terlalu bermasalah. Namun, sesungguhnya hal ini berbahaya, karena ketika satu generasi jatuh ke dalam jebakan ini, generasi berikutnya akan memiliki iman yang lebih lemah atau bahkan tidak memiliki iman sama sekali—dan Gereja pun menjadi berkurang dalam kekuatan dan pengaruhnya.

Ada peperangan rohani yang sedang berlangsung di dalam Gereja dan di dalam masyarakat kita, dan sebagai umat Katolik yang setia, kita perlu menyadarinya. Ada gerakan ateisme baru yang sedang menjangkiti masyarakat secara luas, dan yang lebih mengkhawatirkan, memengaruhi banyak kaum muda. Mereka membentuk sebuah strategi yang berupaya membentuk generasi muda yang meremehkan iman yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Salah satu pandangan yang menyerang Gereja pada zaman sekarang adalah pandangan mengenai pengurangan otoritas orang tua terhadap pendidikan dan kepercayaan anaknya (“anak bukan properti orang tua”). Contoh dari pandangan ini adalah bahwa anak tidak perlu dibaptis dan tidak perlu dididik dalam iman Katolik. Gereja dalam berbagai dokumen mengajarkan betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak dalam iman Katolik dan membaptis mereka sesegera mungkin.

KGK 1250 Karena anak-anak dilahirkan dengan kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal, maka
mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam Pembaptisan, supaya dibebaskan dari kekuasaan kegelapan dan dimasukkan ke dalam kerajaan kebebasan anak-anak Allah, ke mana semua manusia dipanggil. Dalam Pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita. Gereja dan orang-tua akan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran.

KGK 1251 Orang-tua Kristen harus mengerti bahwa kebiasaan ini sesuai dengan tugasnya, memajukan
kehidupan yang Tuhan percayakan kepada mereka.

KHK 867 Para orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama;
segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakramen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.

3. Merayakan Paskah sebagai seorang Katolik

Jika kita ingin melawan serangan dari pandangan Katolik sekuler yang telah dijelaskan diatas, kita harus menjalani iman kita kepada Yesus Kristus dan Gereja-Nya dengan jauh lebih serius. Perayaan Paskah mengingatkan kita bahwa kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahaan. Di dalam Gereja, terdapat kuasa transformasi Yesus Kristus. Kita perlu mengingat kembali mengenai kesaksian diatas tentang kebangkitan Kristus dan memberi perhatian yang jauh lebih besar pada iman kita kepada Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Iman adalah suatu kepercayaan suci yang dipercayakan kepada kita. Iman itu harus dilindungi, dikembangkan, dan dibiarkan bertumbuh.

Inilah yang kita imani, bahwa Allah mengasihi umat manusia jauh melampaui apa yang dapat kita pahami, dan Ia memilih untuk datang dan tinggal di antara kita agar umat manusia dapat memiliki hidup yang penuh bersama Allah Tritunggal. Oleh karena itu, makam yang kosong dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan bukti komitmen Allah Bapa kepada kita.

Kepenuhan hidup ini bukan hanya untuk sekelompok orang tertentu; melainkan ditawarkan kepada semua orang. Pesan Petrus ditujukan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi sama seperti kepada orang Yahudi. Baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, budak maupun orang merdeka, pesan Kebangkitan adalah untuk semua. Penglihatan yang dialami Petrus mendorongnya keluar dari cara berpikir yang kaku, sehingga ia mampu mewartakan Kristus kepada Kornelius (bdk. Kisah Para Rasul bab 10). Kita pun dipanggil untuk terbuka terhadap cara-cara Tuhan agar dapat menjadi saksi pesan ini bagi orang-orang di sekitar kita; untuk hidup dalam relasi yang benar dengan Allah Bapa dan dengan sesama.

Pesan ini dapat kita sebarkan secara kuat ketika semua orang yang telah dibaptis hidup dalam kehidupan yang mulia ini dan memusatkan perhatian pada hal-hal surgawi dengan menyelaraskan rencana dan keinginan kita dengan kehendak Allah Bapa. Hal ini menuntut kita untuk kembali memandang makam yang kosong dan merenungkan kemenangan Yesus Kristus atas maut. Setiap kali kita menghadapi tantangan dalam hidup, marilah kita mengingat hidup yang berlimpah dan penuh yang telah Yesus peroleh bagi kita melalui darah-Nya.

Perenungan ini harus mengarah pada tindakan nyata. Perkataan dan perbuatan kita harus dipenuhi dengan belas kasih dan kebaikan, yang membawa kita keluar dari makam yang kosong menuju hidup yang baru. Kita harus memilih untuk memperjuangkan keadilan dan rekonsiliasi seluruh umat manusia dengan sesama dan Tuhan. Kita berusaha untuk menguatkan dan memberi harapan kepada sesama. Inilah cara kita memberi kesaksian tentang hidup baru dalam Yesus Kristus.

Kesimpulan

  • Paskah menegaskan iman akan kebangkitan Yesus Kristus yang nyata dan menuntut tanggapan iman yang lebih serius, bukan sekadar perayaan atau liburan.
  • Tantangan Katolik modern muncul melalui sikap “Katolik sekuler” yang melemahkan iman, praktik rohani, dan pewarisan iman kepada generasi berikutnya.
  • Kebangkitan Kristus memanggil umat beriman untuk hidup baru: setia pada iman, melawan arus sekularisme, dan menjadi saksi kasih, keadilan, serta pengharapan bagi semua.

Sebagai peziarah di dunia ini, kita terkadang akan tersesat dan memilih jalan yang berbeda. Namun, marilah kita mengingat bahwa tanda yang pasti dan meyakinkan bagi kita adalah bahwa setelah peristiwa makam yang kosong, para rasul makan bersama Tuhan! Kita selalu dapat kembali pada harapan ini: bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah Bapa kita dan kita dapat memulai kembali. Dengan cara ini, kita memberi kesaksian tentang awal yang baru yang dijanjikan oleh Kristus dan menjalani hidup sebagai umat Kebangkitan.

Sharing Questions

  1. Sharingkan hasil perenungan dan refleksimu dalam merayakan masa Prapaskah dan Paskah tahun ini!
  2. Sharingkan pengalamanmu mendapatkan/mempelajari iman Katolik. Bagaimana peranan orang tua/lingkunganmu dalam menguatkan imanmu?
  3. Yesus meninggalkan makam yang menahan tubuh-Nya. Apakah “makam” dalam hidupmu yang menghalangimu dari hidup baru yang dijanjikan oleh Yesus?
  4. Bagaimana aku bisa membuat orang lain merasakan kehadiran Tuhan yang bangkit melalui hidup baru yang ada dalam diriku? Sharingkan!

Reference

https://catholicnews.sg/2024/04/03/witnessing-a-new-beginning/
https://www.thecatholicspirit.com/only-jesus/beware-of-secular-catholicism/