Sesi 19 - Week of 22 Mar 2026

Apologetics: Lent


Intro

Sebagai umat Katolik, kita sering menjumpai pertanyaan atau kritik mengenai praktik puasa, pantang, dan penggunaan abu yang dianggap “kuno” atau bahkan “tidak alkitabiah.” Sangat penting bagi kita untuk mempelajari apologetika atas topik-topik ini agar kita tidak sekadar ikut-ikutan menjalani tradisi tanpa mengerti maknanya. Berikut ini ada beberapa argumen yang sering dipakai untuk mempertanyakan ataupun menentang praktik Gereja Katolik, dan seringkali argumen ini menggunakan referensi Alkitab, tetapi digunakan diluar konteks.

Bahan

1. Wajib pantang/puasa

Argumen: “Memaksa orang untuk berpantang atau berpuasa adalah ‘ajaran setan’ (1 Tim 4:1-3). Puasa yang sejati haruslah bersifat spontan dan berasal dari hati, bukan diwajibkan oleh hukum.”

1 Tim 4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

1 Tim 4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

1 Tim 4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

Pembelaan

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini menjadi bukti lebih konkret dibandingkan khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaskah.

Alkitab: Konteks daripada surat Rasul Paulus kepada Timotius sering disalahgunakan. Rasul Paulus menasihati Timotius agar tidak terpengaruhi oleh ajaran sesat yang mengharamkan beberapa jenis makanan. Dalam Matius 9:15, Yesus berkata, “Tetapi akan datang waktunya mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Yesus tidak mengatakan “jika” mereka berpuasa, melainkan “pada waktu itulah mereka akan.” Gereja hanyalah menyediakan aspek “kapan” agar kita semua sebagai umat Katolik dapat bertindak sebagai satu Tubuh.

Bapa Gereja: Referensi pasca-alkitabiah paling awal mengenai puasa berasal dari Didache (sekitar 110 M), sebuah ringkasan yang sangat awal tentang kehidupan moral dan praktik liturgi Kristiani. Dalam upaya untuk membedakan umat Kristiani dari akar Yahudi mereka, Didache menasihati orang-orang beriman untuk berpuasa pada hari Rabu dan Jumat (karena Senin dan Kamis merupakan hari puasa dalam Yudaisme). Ini membuktikan bahwa puasa wajib bukanlah sebuah hal yang baru, melainkan sebuah praktik Apostolik (para Rasul) yang telah dilakukan sejak zaman dahulu.

Dokumen Gereja: Kanon 1249 dari Kitab Hukum Kanonik menyatakan: “Semua orang beriman kristiani … wajib melakukan tobat demi hukum ilahi… supaya mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama … terutama dengan berpuasa dan berpantang.” Fokus di sini adalah kesatuan. Dengan menetapkan hari-hari yang sama, Gereja memastikan bahwa kita tidak menjadi orang Katolik yang lone wolf.

2. Durasi 40 hari

Argumen: “Periode 40 hari tersebut bersifat arbitrer (arbitrary) dan bukan merupakan angka mutlak. Mengapa umat Katolik harus mengikuti periode 40 hari?”

Pembelaan

Jangan kita lupa bahwa masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaskah ini.

Alkitab: Angka 40 adalah “masa inkubasi” alkitabiah untuk sebuah ciptaan baru atau perjanjian baru.

  • Musa berpuasa 40 hari sebelum menerima Hukum Taurat (Keluaran 34:28).
  • Elia menempuh perjalanan selama 40 hari ke Horeb hanya dengan kekuatan satu kali makan (1 Raja-raja 19:8)
  • Yesus berpuasa 40 hari untuk meresmikan Perjanjian Baru (Matius 4:2).

Dokumen Gereja: Katekismus Gereja Katolik (KGK 540): “Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.” Kita tidak hanya sekedar mengingat sebuah cerita, tetapi kita juga sedang berpartisipasi dalam pengalaman Tuhan Yesus di padang gurun.

3. Abu sebagai “alat pertunjukkan”

Argumen: “Yesus berkata agar kamu membasuh mukamu saat berpuasa supaya tidak ada orang yang tahu (Mat 6:17-18). Abu adalah pelanggaran langsung terhadap perintah-Nya.”

Mat 6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

Mat 6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Pembelaan

Alkitab: Konteks adalah kunci. Dalam Matius 6, Yesus sedang menyerang kelakuan orang yang “mencari muka” ketika berpuasa (fokus di sini adalah “melakukan sesuatu demi pujian orang lain”).

Tanda sakramental abu menunjukkan kerendahan hati, bukan kemunafikan. Abu pada hari Rabu Abu berasal dari daun palem Minggu Palma yang dibakar, dan dioleskan secara publik. Adapun kalimat yang diucapkan oleh prodiakon”Ingatlah bahwa engkau adalah debu, dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19), mengingatkan kita pada asal-usul Adam dan kefanaan manusia. Ritus kuno ini dapat ditelusuri setidaknya dari abad ke-8 dan mereka menyimbolkan:

  • Kerapuhan dan kebutuhan akan penebusan melalui kerahiman Tuhan.
  • Pertobatan internal yang menjadi panggilan bagi semua orang yang telah dibaptis selama masa Prapaskah, guna mempersiapkan diri menuju pertobatan dan pembaruan Paskah.

Abu adalah tanda kebersamaan sebagai komunitas Katolik: “Kita semua adalah orang berdosa.” Ini adalah tindakan kerendahan hati, bukan kesombongan terhadap kesucian kita.

4. Daging vs Ikan

Argumen: “Tuhan menciptakan semua hewan. Mengapa sapi dianggap ‘buruk’ pada hari Jumat tetapi ikan ‘baik’?”

Pembelaan

Gereja secara eksplisit menolak pandangan (seperti Manikeanisme) yang menganggap bahwa daging hewan adalah “jahat secara intrinsik.” Sebaliknya, Gereja menegaskan nilai daging bagi kekuatan manusia sembari menetapkan hukum pantang secara berkala demi alasan kesehatan rohani. Perkara ini penting tetapi sifatnya adalah membentuk disiplin, jadi dalam realitanya, dapat disesuaikan oleh konferensi para uskup.

“Gereja dengan bijaksana melarang konsumsi daging pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Meskipun tampak keras, hukum pantang—pada analisis akhirnya—berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani.” — Catholic Encyclopedia (The Encyclopedia Press, 1913)

Dokumen Gereja: Konstitusi Apostolik Paenitemini (1966) oleh Paus Paulus VI menjelaskan bahwa tujuan dari pantang bukanlah karena makanan tersebut “kotor,” melainkan sebagai bentuk “kemiskinan”. Di banyak negara, daging lebih identik sebagai makanan untuk perayaan sedangkan ikan lebih sering dikonsumsi oleh rakyat miskin. Dengan memakan ikan (makanan rakyat jelata/miskin), kita mengidentifikasikan diri kita dengan orang miskin dan Kristus yang menderita.

5. Berbuat baik vs Pantang

Argumen: “Kalau ingin menjadi orang yang lebih baik, ya jadi orang yang lebih baik saja. Kenapa harus bersusah payah dengan drama pantang ini dan itu?”

Pembelaan

Pantang/puasa sangatlah penting untuk membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tindakan eksternal untuk “bersikap lebih baik” sering kali gagal kalau tidak didasari dengan transformasi batin (internal) seperti menghilangkan kebiasaan buruk, membangun penguasaan diri, dan menyelaraskan tindakan-tindakan kita dengan satu tujuan, yakni persatuan dengan Tuhan. Ajaran Katolik menegaskan bahwa pertumbuhan moral yang sejati membutuhkan disiplin pertobatan seperti puasa untuk memurnikan hati, menekan concupiscence (kecenderungan berbuat dosa), dan menanamkan kebajikan, sebagaimana yang diajarkan Yesus dalam Khotbah-Nya di Bukit.

Alkitab:

  • 1 Korintus 9:25-27: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal… aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya.” Jika seorang atlet melatih tubuhnya untuk memenangkan piala, maka seorang Kristiani harus melatih “kehendak”-nya untuk memenangkan hidup kekal.
  • Matius 6:33: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Praktik pantang/puasa juga mengubah tujuan dari aksi kita untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, sehingga pilihan-pilihan yang kita ambil pun didasarkan oleh kemurahan hati Bapa.

Logika Teologikal: Sebagian besar dosa adalah hasil dari keinginan yang tidak teratur (mencintai sesuatu yang baik secara berlebihan melampaui kasih kepada Tuhan). Dengan melepaskan sesuatu yang pada dasarnya baik (seperti cokelat atau menonton TV), kita membuktikan kepada jiwa kita bahwa kita adalah tuan atas nafsu kita, bukan budaknya. Jika kita tidak bisa berkata “tidak” pada sebatang cokelat, kita tidak akan bisa berkata “tidak” pada godaan yang lebih besar.

Kesimpulan

  • Transformasi Batin melalui Disiplin Fisik: Puasa dan pantang bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan latihan rohani untuk membangun penguasaan diri dan menghilangkan kebiasaan buruk. Dengan melatih kehendak melalui hal kecil seperti makanan, kita memperkuat jiwa untuk menolak godaan dosa yang lebih besar.
  • Ketaatan pada Teladan Kristus dan Gereja: Masa 40 hari mengikuti teladan Yesus di padang gurun sebagai persiapan rohani yang mendalam. Gereja mewajibkan praktik ini agar umat bertobat secara komunal sebagai satu Tubuh Kristus, bukan sekadar sebagai individu.
  • Simbol Kerendahan Hati dan Pertobatan: Penggunaan abu adalah tanda sakramental yang mengingatkan kita akan kefanaan manusia dan kebutuhan mutlak akan rahmat Tuhan. Praktik ini menunjukkan kerendahan hati secara publik untuk mengakui bahwa kita semua adalah pendosa yang sedang menuju pembaruan Paskah.

Sharing Questions

  1. Dari lima poin apologetika di atas, argumen mana yang paling sering kalian dengar dari orang lain? Bagaimana materi ini mengubah pengertian kalian mengenai poin tersebut?
  2. Sharingkan hal apa yang paling ingin kalian “murnikan” atau persiapkan selama masa Prapaskah ini!
  3. Abu adalah tanda bahwa “kita semua adalah pendosa.” Apakah praktik Rabu Abu ini membantu kalian merasa tidak sendirian dalam perjuangan melawan kebiasaan buruk atau dalam pantang/puasa kalian tahun ini? Sharingkan!

Sources

https://katolisitas.org/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa/

https://archive.org/details/04.CatholicEncyclopedia1912ClandDiocesan

Nova et Vetera, Vol. 17, No. 2