Sesi 17 - Week of 1 Mar 2026

Lent Practices


Intro

Banyak orang sering kali tidak menantikan masa Prapaskah. Kenangan masa kecil tentang harus berpantang permen atau mengikuti Jalan Salib setiap minggu langsung terlintas di pikiran. Kata-kata seperti “pengorbanan,” “disiplin,” dan “penyangkalan diri” sering digunakan dengan cara yang membuat Prapaskah terasa seperti sesuatu yang harus dijalani dengan berat, bukan sebagai waktu rahmat dan pertumbuhan rohani.

Pernahkah Anda memandang Prapaskah sebagai kesempatan kedua yang datang setiap tahun? Setiap tahun Gereja memberi kita waktu enam minggu untuk menata hidup kita dengan jujur dan penuh kasih, untuk melihat apakah nilai-nilai dan prioritas kita sudah sejalan dengan kehendak Allah bagi kita. Karena sebagian besar dari kita menyadari bahwa kita telah menyimpang dari jalan Allah, Prapaskah menjadi kesempatan kedua itu—kesempatan untuk “kembali kepada Allah dengan segenap hati.”

Hari ini kita akan melihat beberapa praktik Prapaskah dan kisah orang-orang yang berusaha menjadikan masa Prapaskah sebagai waktu doa, puasa, dan amal kasih yang bermakna bagi diri mereka sendiri, orang-orang yang mereka kasihi, dan komunitas mereka.

Kita diundang untuk merefleksikan pengalaman pribadi kita selama masa Prapaskah tahun ini dan membagikannya dalam cell-group: bagaimana masa Prapaskah ini telah mengubahku menjadi murid Allah yang lebih baik?

Saat kita menjalani perjalanan kesempatan kedua dalam masa prapaskah tahun ini, ingatlah bahwa setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada pelukan Allah kita yang penuh kasih. Mari kita lihat praktik-praktik Prapaskah dari beberapa orang yang di interview oleh Loyola Press (United States) yang mungkin dapat menginspirasi kita untuk dilakukan pada masa Prapaskah ini.

My Lenten jar

Aku selalu memiliki banyak hal baik yang ingin kulakukan, tetapi entah mengapa tidak pernah sempat: menulis pesan untuk seorang sahabat, mengunjungi orang yang kesepian, menelepon teman yang jauh. Di awal masa Prapaskah, aku menuliskan lebih dari 40 tugas, masing-masing pada secarik kertas kecil, lalu memasukkannya ke dalam sebuah toples. Setiap pagi selama Prapaskah, aku mengambil satu kertas dan melakukan tugas yang tertulis di sana. Hal ini mengasyikan karena mempunyai unsur kejutan dan variasi dalam praktik Prapaskahku. Bagiku, ini adalah cara sederhana untuk memusatkan diri pada disiplin berbagi dengan sesama dan berbuat baik bagi orang lain

– Mark G., KS.

Dialing into God

Daripada mendengarkan musik atau radio di mobil, aku memutuskan untuk menggunakan waktu itu sebagai waktu doa dan untuk mendengarkan Allah. Awalnya, transisi ini terasa sulit; keheningan itu terasa sangat menekan. Namun perlahan-lahan, aku mulai menikmati waktu sunyi tersebut. Aku berdoa bagi orang-orang yang kukenal yang membutuhkan doaku. Aku berdoa bagi keluargaku dan diriku sendiri. Aku juga mengucap syukur kepada Allah atas begitu banyak berkat yang kuterima. Aku mendapati diriku menjadi jauh lebih tenang dan damai selama waktu ini. Keheningan penuh doa ini membantu meneguhkan dan memusatkan perhatian untuk melakukan yang terbaik untuk Allah dan sesama.

– Donna, NC

A note a day

Setiap hari selama masa Prapaskah, melalui doa, muncul nama seseorang yang telah memberi dampak dalam hidupku. Aku lalu berniat untuk meluangkan waktu untuk menulis sebuah pesan bagi orang tersebut. Aku terkejut melihat siapa saja yang muncul: guru kelas 3-ku, sepupu, seorang imam, hingga seorang siswa SMA yang pernah menulis surat untukku setelah presentasi yang kuberikan di sekolahnya.

Aku mengirimkan catatan-catatan itu tanpa mengharapkan balasan. Namun, aku menerima beberapa email dan surat yang mengatakan betapa berartinya catatan itu bagi mereka. Hidup ini terlalu singkat—kita bisa melihatnya dalam hidup Yesus yang sangat singkat—tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk memberikan kasih kepada mereka yang telah memberi dampak dalam hidup kita (bahkan dalam pengalamanku, ada yang baru menyadarinya setelah menerima catatan tersebut).

Hal ini mencerminkan makna Prapaskah: doa – saat kita mendoakan satu orang secara khusus setiap hari; puasa—berpuasa dari pikiran-pikiran negatif; dan amal kasih—mengirimkan catatan penuh peneguhan adalah sebuah hadiah yang indah.

– Suzanne, NY

Coming home

Aku telah menjauh dari Gereja selama bertahun-tahun. Aku tidak dibesarkan dengan dasar iman Gereja yang kuat, sehingga sebagai orang muda, sangat mudah bagiku untuk menjauh. Ketika ibuku meninggal saat aku berusia 31 tahun, aku sangat marah kepada Allah.

Setelah lebih dari satu tahun menyimpan kemarahan itu, aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk pergi ke Misa. Aku mengabaikan perasaan itu untuk beberapa waktu, tetapi akhirnya aku mendapati diriku berada di gereja pada hari Rabu Abu. Di sana, dalam keheningan gereja sebelum ibadah dimulai, aku merasa dipanggil untuk “pulang” (pulang ke pelukan Bapa).

Sepanjang masa Prapaskah itu, setiap homili terasa seolah-olah ditujukan langsung kepadaku. Melalui wafat dan kebangkitan Putra-Nya, Allah membuatku sadar bahwa Dia ingin menanggung kemarahanku; Dia sabar untuk menantiku sembuh dari semua lukaku; dan bahwa Dia tidak pernah berhenti mengasihiku. Hingga hari ini, masa Prapaskah selalu mengingatkanku akan saat aku “pulang ke rumah”!

– Lori A., WA

A forgiving family

Keluarga kami memiliki kebiasaan doa mingguan selama masa Prapaskah yang kami sebut “Pengampunan Hari Jumat” or “Friday Forgiveness”. Setelah makan malam, suamiku akan membacakan sebuah kisah pengampunan dari Alkitab. Aku lalu menyampaikan refleksi singkat, dan setelah itu kami melakukan Pengampunan Hari Jumat.

Setiap anggota keluarga akan meminta pengampunan kepada setiap anggota keluarga lainnya, dan yang dimintai akan menjawab dengan memberikan pengampunan. Setiap orang meminta dan memberi pengampunan. Terkadang, tidak ada kesalahan khusus yang disebutkan, hanya permohonan pengampunan secara umum. Praktik ini adalah saat di mana kami mengalami penyembuhan dan damai yang kembali hadir di rumah kami.

– JAH, IA

Kesimpulan

  1. Masa Prapaskah adalah kesempatan kedua setiap tahun untuk kembali kepada Allah melalui refleksi hidup, pertobatan, dan pembaruan iman.
  2. Melalui praktik doa, puasa, dan amal kasih, kita diajak menumbuhkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan sesama.
  3. Praktik Prapaskah bisa lebih variatif, misalnya My Lenten Jar, A Note Each Day, atau Dialing into God.

Sharing questions

  1. Bagaimana kalian akan menjalani praktik Prapaskah berupa doa, puasa, dan amal kasih tahun ini?
  2. Dapatkah kamu mengingat satu momen selama masa Prapaskah ketika kamu sungguh merasakan kasih Allah? Apa yang membuat momen itu istimewa?
  3. Apa yang kalian hendak pelajari tentang diri kamu, imanmu, dan Allah melalui praktik Prapaskah tahun ini?
  4. Sharingkan satu hal/ kebiasaan baik yang ingin kamu lanjutkan bahkan setelah masa Prapaskah berakhir.

Closing Prayer

Tuhan, kami rindu untuk semakin dekat dengan-Mu, namun kami sering terjebak dalam kesibukan hidup dan lupa bahwa Engkau pun berjalan bersama kami. Bukalah mata dan pikiran kami agar kami dapat melihat kehadiran-Mu dan ditarik semakin dekat kepada-Mu. Anugerahkanlah kepada kami sukacita dan ketekunan untuk berjuang menuju kekudusan dalam kehidupan kami sehari-hari. Jadikanlah kami alat harapan, penghiburan, dan sukacita bagi satu sama lain. Kami mohon semua ini demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Reference

https://www.loyolapress.com/catholic-resources/liturgical-year/lent/perspectives-on-lent/articles/reflecting-on-the-lent-season/