Intro
Wah tidak terasa sudah bulan Februari saja nih. Apakah kalian ada rencana untuk Valentine’s Day? Atau cuma seperti hari biasa lainnya? Biasanya ini saat-saat di mana banyak dekorasi bunga dan coklat serta promosi-promosi makanan serta entertainment bermunculan untuk pasangan dan keluarga. Buat yang sudah berpasangan atau berkeluarga, bulan kasih sayang ini mungkin dilihat sebagai pengingat untuk menunjukkan kasih sayang dan memberikan apresiasi kepada pasangannya masing-masing.
Nah, terus gimana dong yang masih single? Sendirian doang makan Indomie sambil merenungi nasib? Apakah jomblo atau single itu berarti ada yang kurang dalam hidup? Apakah ini artinya yang single tidak pernah menemukan tulang rusuk pasangannya?
Di CG hari ini, kita akan belajar mengenai jomblo atau single menurut ajaran Katolik dan bagaimana kita yang single juga bisa mempraktekkan kemurnian (chastity) dalam hidup kita.
Apakah artinya kalau kita itu Single atau Jomblo?
Banyak orang yang berpendapat kalau single dan jomblo itu berbeda. Kita tidak akan membahas benar atau tidaknya pada CG kali ini, tapi kita setuju kalau ada dua jenis orang “single”.
1. Single karena belum ada pasangan
Ini artinya kita masih membuka diri untuk mencari pasangan hidup, tapi hanya saja kita belum menemukan yang cocok.
2. Single karena pilihan
Ini artinya kita sudah memutuskan untuk berhenti mencari-cari pasangan hidup. Ya kalau ada yang datang sendiri tanpa harus dicari, mereka baru melakukan discernment kembali. Pokoknya untuk sekarang mencari pasangan hidup sudah bukan menjadi prioritas hidup mereka.
Perlu ditekankan, menjadi single itu bukan suatu hal yang negatif. Kultur zaman sekarang ini seringkali menekankan pentingnya hubungan romantis secara berlebihan. Seolah-olah kita cuma punya satu tujuan dalam hidup kita ini yaitu untuk mencari pasangan hidup dan begitu kita menemukannya kita baru dapat mengerti makna hidup sepenuhnya.
Apa yang bisa kita lakukan selama kita single?
Mempersiapkan diri
Mengetahui diri kita sendiri dapat membantu dalam banyak aspek kehidupan ini dan juga mempersiapkan masa depan kita. Banyak dari kita membawa luka dari masa lalu kita, insecurities, dan kebiasaan dosa yang sulit kita atasi. Apakah kita secara tidak sadar terpengaruh dengan perceraian atau pernikahan yang tidak sehat dari sekitar kita? Apakah kita pernah atau masih mempunyai masalah komitmen, komunikasi, atau kemurnian dalam hidup kita sebagai orang dewasa?
Pengetahuan ini membantu kita untuk mempersiapkan saat-saat dalam hubungan masa depan kita. Apalagi kalau kita pada akhirnya menemukan pasangan hidup, luka-luka ini bisa membawa perselisihan dengan mereka di masa depan. Namun, selain mengetahui diri kita dengan cara ini, kita juga dianjurkan untuk mengambil langkah-langkah aktif untuk membantu kita menyelesaikan perkara yang masih belum selesai atau memperbaiki kelemahan kita.
Jaga kemurnian
Ibaratnya emas murni, kalau kita mendengar kata kemurnian, yang terbayang di pikiran kita adalah suatu zat yang tidak terkontaminasi oleh zat-zat lain. Demikian juga, Tuhan menghendaki kemurnian kita. Tuhan menginginkan agar kita menjadi sempurna, tubuh dan jiwa, seperti pada awalnya saat Ia menciptakan manusia yang sungguh sangat baik adanya (lih. Kej 1:31).
Kemurnian bukan hanya tentang menjauhi seks. Kemurnian adalah kebajikan yang menghargai keutuhan seksualitas kita sebagai pria dan wanita. Hawa nafsu mengajarkan kita untuk memandang satu sama lain hanya sebagai kumpulan bagian tubuh, tetapi kemurnian mendorong kita untuk memandang satu sama lain sebagai pria dan wanita secara utuh dengan akal budi, jiwa, dan tubuh. Bagi orang yang belum menikah (baik mereka yang berencana untuk menikah atau mereka yang berniat untuk tetap single), kemurnian berarti tetap murni dalam pikiran dan perbuatan, menahan diri dari hubungan seksual dan bentuk lain dari gairah seks yang disengaja. Yesus mengajarkan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya…. ” (Mat 5:28). Perzinahan di pikiran sudah termasuk dosa melawan kemurnian.
Kemurnian bukanlah hanya mengenai diri sendiri, tetapi juga mengenai orang lain. Seringkali kita fokus untuk membawa sukacita kepada diri sendiri, tanpa peduli dengan apa yang orang lain perlukan. Memberikan diri secara murni ini memang tidak mudah dilakukan, terutama karena manusia cenderung memiliki rasa cinta diri. Coba renungkan hal berikut ini: Apakah dalam berelasi dengan sesama, fokus kita adalah menyenangkan diri sendiri atau menyenangkan orang lain? Apakah dalam berelasi dengan orang lain kita membantu mereka untuk hidup kudus/murni atau malah menjerumuskan mereka?
Terus, bagaimana jika sudah terlanjur tidak murni?
Jika karena satu dan lain hal (entah karena ketidaktahuan, ataukah karena kesalahan) kita tidak sepenuhnya menjalankan ajaran kemurnian di masa lalu, janganlah berputus asa. Tuhan Yesus datang untuk mengampuni dosa-dosa kita. Asalkan kita dengan tulus menyesali segala dosa dan kesalahan kita, maka Tuhan akan mengampuni kita. Seperti Yesus mengampuni Maria Magdalena yang berdosa dan pengampunan ini mengubah kehidupan Maria. Yesus pun dapat mengampuni kita dan mengubah kehidupan kita dan mempersiapkan kita untuk pasangan kita di masa depan.
Berbahagia dan bersukacita, penuh dengan Roh Kudus
Single, bukan berarti tidak bisa se-happy orang-orang yang sudah berpasangan loh! Justru, sebagai orang single, kita memiliki lebih banyak waktu untuk diri kita sendiri untuk mencari tahu bagaimana kita bisa mencari kebahagiaan dalam hidup kita. Ini kembali lagi dengan bahan CG kita di awal tahun mengenai tujuan hidup dan bagaimana setiap tujuan hidup yang Tuhan rencanakan untuk kita akan membawa kebahagiaan yang sejati. Sudahkah kita mulai memikirkan apa tujuan hidup kita? Apakah hal-hal yang kita lakukan setiap harinya sudah membawa kita lebih dekat dengan tujuan hidup kita?
Ada orang-orang yang Tuhan ingin sentuh dengan cara yang hanya dapat kita lakukan. Ada tempat-tempat yang Tuhan ingin kita lihat dan alami. Dan mungkin kita hanya dapat melakukan semua hal ini dengan kebebasan yang kita miliki saat ini. Tuhan ingin berbicara dengan kita dalam keheningan yang cuma kita miliki untuk sementara waktu. Dia ingin kita menemui-Nya dalam doa, Sakramen, retret dan devosi khususnya di waktu single ini, ketika waktu yang kita miliki memang hanya punya kita sendiri.
Perjuangan untuk menerima kehendak Tuhan dalam hal-hal yang paling kita pedulikan membutuhkan “kematian” terhadap diri sendiri. Maksudnya, kehidupan lama kita akan mati dan digantikan dengan kehidupan bersama dan di dalam Tuhan. Dan proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Namun, jika kita setia pada kehidupan doa, seperti yang diajarkan oleh guru-guru besar Gereja, dan berusaha untuk tumbuh dalam kebajikan, Roh Kudus akan memberi kita rahmat untuk mengikuti kehendak-Nya, dan hidup kita akan penuh dengan sukacita. Sebaliknya, jika kita tidak berhasil benar-benar mengikuti kehendak Tuhan, hidup kita bisa dipenuhi dengan rasa sakit dan kepahitan emosional.
Jika ada dari kita yang ingin mengerti sukacita dalam kehidupan single menurut ajaran Katolik lebih jauh, ada beberapa sumber material yang bisa dicek.
1. Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Filipi
Dalam surat ini, Santo Paulus mengajarkan bahwa sukacita tidak bergantung pada keadaan. Sukacita datang dari memiliki Tuhan. Meskipun single mungkin bukan hal yang kita inginkan, Tuhan masih memanggil kita untuk menghidupi Injil dengan sukacita. Terlepas dari pergumulan dan situasinya yang tidak menguntungkan, Paulus tahu betapa Allah sangat mengasihi dia. Dan hal yang sama dapat dikatakan bagi orang-orang single.
2. Christian Dating in a Godless World by Father T.G. Morrow
Sebelum Pastor Morrow memasuki kehidupan imamat, dia menghabiskan banyak waktu untuk dating. Pengalaman dating ini membuat dia tahu sakitnya patah hati dan masalah yang mungkin muncul dalam sebuah hubungan. Melalui buku ini, Pastor Morrow membantu membentuk para single Katolik yang suci. Revolusi seksual menghancurkan banyak hal untuk para singles, dan Pastor Morrow ingin membangun kembali kesucian di antara para singles.
3. Single for a Greater Purpose by Luanne Zurlo
Dalam Single for a Greater Purpose, Zurlo secara efektif menguraikan secara rinci kebingungan apakah “vocational singlehood” memiliki panggilan atau tidak. Bertentangan dengan pendapat umum, kehidupan lajang sering kali merupakan panggilan yang kudus dan menyenangkan untuk dijalani, kadang-kadang secara tersembunyi, oleh jiwa-jiwa yang telah mengalami perjumpaan otentik dengan Kristus. Di sini dia menjelaskan panggilan yang kurang dipahami ini, yang dilihat dan dipeluk oleh semakin banyak orang lajang yang tidak menikah atau memasuki kehidupan religius. Jiwa-jiwa ini dengan sukacita melajang untuk tujuan yang lebih besar, memelihara baik dunia maupun Gereja dengan kekuatan dan rahmat spiritual unik yang Tuhan berikan kepada jiwa-jiwa yang sengaja tetap melajang bagi-Nya — di dunia tetapi bukan dari dunia (in this world but not of this world).
Kesimpulan
- Single itu bukan suatu hal yang negatif, singleness juga dapat menjadi sebuah keadaan sementara di mana setiap dari kita akan mempersiapkan diri untuk pasangan kita nantinya.
- Persiapan ini juga yang akan membantu kita untuk mengerti tujuan hidup kita dan bagaimana kita dapat menemukan kebahagiaan sejati, baik saat single maupun ketika sudah berpasangan nantinya.
- Kebahagiaan sejati datang dari Tuhan, bukan dari status relasi. Jadi, jangan sedih atau FOMO dulu bagi yang masih single. Justru pakailah kesempatan ini sebaik-baiknya!
Pertanyaan Sharing
- Buat temen-teman yang masih single ataupun juga yang sudah berpasangan, bagaimanakah keadaan kalian, apakah kalian merasa sedih, kesepian, fomo atau cuek-cuek aja, atau malah happy, sibuk, dll. Sharingkan keadaan kalian saat ini!
- Sharingkan menurut pendapat kalian apakah tantangan kalian untuk hidup dalam kemurnian. Bagaimana kalian bisa tetap mempertahankan kemurnian di lingkungan kalian? Seperti di tempat kerja, di kampus, dll.
- Menurut kalian hal-hal apa yang biasanya kalian lakukan buat yang single untuk dapat tetap berbahagia dan bersukacita, penuh dengan Roh Kudus. Sharingkan!
Reference
- https://www.catholiceducation.org/en/marriage-and-family/sexuality/what-is-chastity-amp-how-can-i-be-chaste.html
- https://www.catholicsingles.com/blog/prepare-marriage/
- https://www.catholicsingles.com/blog/5-chastity-isnt/
- https://www.catholic.sg/s-o-s-sick-of-singleness/?__cf_chl_f_tk=vzpaSskkWlpErNvC.SS7HEfnOzoiedqX8mY8GV4 Dpc4-1642512526-0-gaNycGzNCL0
- https://www.ncregister.com/commentaries/joyfully-living-the-single-life-dedicated-to-god
- https://www.catholicsingles.com/blog/books-joy-catholic/
- https://www.catholicsingles.com/blog/14-ways-to-take-advantage-of-being-single/
- St. Ambrose, De viduis 4, 23: PL 16, 255A
- https://cg.amoredio.org/cg-reading/single-and-happy/