Sesi 14 - Week of 25 Jan 2026

Intro: Peace That the World Cannot Give


Reflection with St. Francis of Assisi

Intro

Di dunia yang semakin bising dan terpecah, manusia terus mencari damai — dalam kesuksesan, hubungan, atau pencapaian pribadi. Namun, dunia hanya mampu menawarkan kedamaian yang sementara, bukan damai sejati. Kristus berkata, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu; bukan seperti yang diberikan dunia ini” (Yoh 14:27).

St. Francis of Assisi adalah saksi hidup dari damai Kristus yang sejati. Ia meninggalkan kekayaan, kuasa, dan kemuliaan dunia untuk menjadi “pembawa damai Allah” di tengah kekacauan zamannya. Bagi St. Francis, damai adalah buah dari pertobatan radikal dan kasih murni kepada Allah dan semua ciptaan.

1. Pengantar Teologis – Damai sebagai Anugerah Ilahi

Katekismus Gereja Katolik (KGK 2304) menyatakan:

“Damai bukan hanya tidak adanya perang, tetapi keadaan tenang dalam ketertiban. Damai adalah hasil dari keadilan dan buah dari kasih.”

Dalam bahasa Ibrani, damai atau shalom berarti kesatuan dan kelengkapan hidup; dalam bahasa Yunani, eirēnē berarti harmoni dan keteraturan. Ketika dosa masuk ke dunia, shalom atau eirēnē itu hancur. Yesus Kristus datang untuk mendamaikan dunia dengan menebus dosa manusia, dan mendamaikan hubungan seluruh ciptaan dengan Allah (Kol 1:20).

St. Francis memahami hal ini secara mendalam: ia mencari damai bukan di luar atau di dunia, tetapi dengan bertobat secara penuh dan mempersatukan kehendak dirinya dengan kehendak Allah. Setelah bertobat dari hidup duniawi, ia menemukan damai yang tidak terguncang bahkan di tengah penderitaan, penolakan, dan kemiskinan.

2. Dasar Kitab Suci tentang Damai Sejati

  • Yoh 14:27 – “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Damai sejati berasal dari persatuan dengan Kristus, bukan dari keadaan luar.
  • Efesus 2:14 – “Ia sendiri adalah damai sejahtera kita.” Damai bukan konsep, tetapi pribadi Yesus sendiri.
  • Matius 5:9 – “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Panggilan damai adalah identitas setiap murid Kristus.

St. Francis menjalani Sabda Bahagia ini secara harafiah. Ia menjadi pembawa damai — bukan dengan kata-kata, tetapi dengan gaya hidupnya: dimana dia mengasihi musuh, mengasihi alam, mengasihi kaum miskin dan tersingkir, dan dalam dirinya sendiri membawa damai sejati melalui pertobatan terus-menerus.

3. Kesaksian Damai: St. Francis dan Salib San Damiano

Damai St Francis berawal dari doa di hadapan salib San Damiano di Katedral di Assisi, dimana disitu Kristus berkata melalui salib tersebut: “Francis, perbaikilah rumah-Ku yang hampir runtuh.”

Panggilan Tuhan itu bukan hanya tentang merenovasi bangunan gereja, tetapi tentang memperbaiki ketidakadilan dan kerusakan dalam institusi Gereja dan hati manusia yang semakin merusak. Dengan ketaatan kepada panggilan tersebut, Francis memperbaiki institusi Gereja melalui kasih dan damai — bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kerendahan hati dan pelayanan secara total.

St Francis melakukan pelayanan tersebut dengan sukacita dan ketulusan hati, bahkan saat sakit dan hampir buta di akhir hidupnya, ia tetap bernyanyi: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, untuk saudari kami, Maut Jasmani, yang darinya tiada insan hidup terlepas. Malanglah mereka yang mati dalam dosa. Berbahagialah yang ditemui kematian dalam kehendak suci-Mu, maut kedua takkan mencelakakan mereka” (Praised be you, my Lord, through our Sister Bodily Death, from whom no living being can escape. How dreadful for those who die in mortal sin! How blessed are those she finds in your most holy will for the second death can do them no harm – Ref: Canticle of Creatures – )

Sampai akhir hidupnya, ia bisa berkata seperti St. Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” (2 Tim 4:7)

4. Damai Menurut Spiritualitas Fransiskan

St Francis yang menjadi pembawa damai dan pelayanannya di Gereja mengundang banyak pengikut, yang sekarang disebut ordo Fransiskan. Pesan damai St Francis tersalurkan dalam spiritualitas ordo Fransiskan tersebut.

Dalam Regula Non Bullata (1221) (aturan spiritualitas bagi para pengikut St. Francis of Assisi) ada tertulis:

“Ketika kamu memasuki suatu rumah, katakanlah: ‘Semoga damai menyertai rumah ini.’”

Perlu diperjelas bahwa dalam teks/ spiritualitas ordo Fransiskan, damai adalah cara hidup — tindakan nyata yang bisa menimbulkan kasih dan memulihkan relasi.

Empat ciri teologis damai ordo Fransiskan:

  1. Pertobatan – Damai lahir dari hati yang berdamai dengan Allah. Tanpa tobat, damai hanyalah ilusi.
  2. Kemiskinan Injili – Melepaskan semua keterikatan duniawi membuka ruang bagi damai sejati.
  3. Persaudaraan Universal – Setiap makhluk hidup adalah “saudara dan saudari” kita karena sama-sama berasal dari Allah.
  4. Misi Rekonsiliasi – Damai harus dibawa ke dunia: kepada mereka yang terluka, tersingkir, atau kehilangan harapan.

5. Mengapa hal ini penting bagi kita?

Kita hidup di dunia yang kehilangan shalom/eirēnē, dengan adanya polarisasi yang memecahkan, kecanduan yang makin mengental, perang yang tak berundung henti, dan keresahan batin. Namun St. Francis menunjukkan bahwa damai sejati berawal dari hati yang bertobat dan memberikan kasih yang tulus dan sederhana.

Dalam era modern, “menjadi pembawa damai” berarti:

  • Menjawab kebencian dengan pengampunan,
  • Mengganti kemarahan dengan kelembutan,
  • Menjadi saksi kasih di tengah dunia yang haus akan makna.

Sharing Questions

  1. Bagaimana kisah St Francis Assisi menginspirasi mu? Apakah kisah St Francis mengubah pengertianmu mengenai damai?
  2. Apa area dalam hidupmu yang paling membutuhkan damai Kristus saat ini?
  3. Bagaimana kamu bisa menjadi pembawa damai — di rumah, sekolah, komunitas, atau media sosial?