The Resurrection of the Body – Part 1 (Death)


Intro

Catatan untuk fasil: materi ini adalah bagian pertama dari materi tentang The Ressurection of the Body. Fasil dapat membaca bagian pertama dan kedua (bahan minggu depan) agar lebih memahami keseluruhan materi ini.

“Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Kebangkitan Badan, Kehidupan Kekal”. Setiap hari minggu kita mengucapkan kata-kata ini. Tetapi, apakah kita memahami makna iman kita yang kita ucapkan setiap minggu?

Pada CG minggu ini dan minggu depan kita akan mendalami makna dibalik kata-kata Kebangkitan Badan (The resurrection of the body). Mengapa kebangkitan badan ini begitu penting sehingga kita menyatakannya dalam pernyataan iman Aku Percaya.

Pembahasan

Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian yang sangat penting dalam iman Kristiani. Orang yang tidak percaya akan kebangkitan badan, tidak percaya akan Kristus yang telah bangkit. St Paulus kepada jemaat di Korintus mengatakan:

“Bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Kalau tidak ada kebangkitan orang mati maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. … Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:12-14.20).

Iman akan kebangkitan badan sangat berhubungan erat dengan iman akan Kristus yang bangkit.

Di dalam bunyi rumusan asli Aku Percaya (the Apostles’ Creed), kata yang dipakai adalah daging (flesh), “Kebangkitan daging”. Ungkapan daging di sini mengacu kepada manusia dalam kelemahan dan keadaannya yang fana. Ungkapan kebangkitan daging ini berarti bahwa sesudah kematian tidak hanya jiwa kita yang hidup terus, tetapi juga “tubuh kita yang fana” ini juga akan hidup kembali seperti kata St Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma:

“Dan jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Roma 8:11)

Pada minggu ini, mari kita memahami pentingnya kematian dan apa yang Gereja ketahui tentang kematian. Kita akan bahas lebih mendalam tentang kebangkitan badan di sesi CG minggu depan.

Pentingnya kematian

Tidak ada yang membawa kita pada pentingnya dan nilai hidup manusia lebih tajam daripada kematian. Kita jarang menghargai hidup kita sampai kita menyadari betapa rapuhnya hidup itu, terutama di saat teman dan keluarga diambil dari kita oleh kematian.

Aspek kematian ini memberi kepada kehidupan kita sesuatu yang mendesak: keyakinan akan kefanaan mengingatkan kita bahwa hanya tersedia bagi kita suatu jangka waktu terbatas untuk menjalankan kehidupan kita (KGK 1007). Di saat kita menyadari bahwa waktu kematian kita akan datang dengan pasti, hal-hal yang penting (essensial) tidak akan nampak sepele lagi. Seperti kata pemazmur di Mazmur 90:12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Teach us to number our days, that we may get a heart of wisdom).

Kematian mempertajam pandangan kita, dan membawa seluruh hidup kita ke suatu titik. Kematian mengajarkan kepada kita kebenaran kata-kata Yesus: “Marta, Marta, kamu khawatir dan cemas tentang banyak hal. Tetapi hanya satu hal yang perlu ”(Lukas 10:41). “Satu hal” tersebut adalah Allah, dan hubungan kita dengan Allah. Hanya Tuhan yang abadi, dan hanya hubungan kita dengan Tuhan yang abadi. Hanya Tuhan yang penting dalam keberadaan-Nya, dan hanya hubungan kita dengan Tuhan yang mutlak diperlukan bagi keberadaan kita. Dari semua hal yang lain, memang benar untuk mengatakan, “ini juga akan berlalu.” Hanya Allah yang tetap ada.

Apa yang Gereja ketahui tentang kematian?

Gereja datang sebagai saksi kabar baik tentang kematian dan kehidupan setelah kematian dari Manusia yang mengaku sebagai Tuhan. Dia membuktikannya dengan bangkit dari kematian. Orang yang skeptis bertanya, “Apa yang Anda ketahui tentang kehidupan setelah mati? Apakah Anda pernah ke sana? ”Dan jawaban Katolik adalah:“ Tidak, tetapi saya tahu Seseorang yang pernah, dan saya percaya kepada-Nya. ”Kita umat Katolik mengenal-Nya – itu adalah hal penting yang kita tahu, dan alasan penting untuk menjadi seorang Katolik – dan karena itu kita tahu arti kematian, melalui para saksi-Nya, para rasul-Nya dan penerus-Nya, yaitu Gereja.

Mengapa kita mati?

Kematian adalah “berita buruk” dari masa lalu, yang datang sebelum Injil, dan juga merupakan “kabar baik” tentang masa depan, tentang penaklukan kematian melalui Kristus. Kabar baiknya adalah bahwa Kristus adalah Juru Selamat dari dosa dan kematian, Juru selamat jiwa dan tubuh. Tetapi sama seperti “kabar baik” keselamatan dari dosa mensyaratkan “kabar buruk” dosa, demikian pula “kabar baik” keselamatan dari kematian mensyaratkan “kabar buruk” kematian.

Gereja memberi tahu kita tiga alasan mengapa kita mati. Yang pertama adalah alasan natural, yang kedua unnatural, dan yang ketiga supernatural.

  1. Natural. “Dalam arti tertentu, kematian tubuh adalah alami …” (KGK 1006), karena kita memiliki tubuh. Kita bukan malaikat yang murni roh.
  2. Unnatural. “[untuk iman] [kematian] itu adalah upah dosa” (KGK 1006), dan karenanya unnatural. “Allah tidak membuat maut, dan Ia tidak senang akan kematian orang yang hidup” (Kebijaksanaan 1:13). Awalnya Allah menciptakan manusia bebas dari kematian, tetapi ketika ia menguji manusia dan manusia gagal dalam ujian, manusia jatuh ke dalam maut (Kejadian 3:34,19). Penyebab kematian adalah dosa (Roma 6:23).

Dosa adalah pemisahan dari Tuhan (dimana Tuhan adalah sumber dari semua kehidupan). Tubuh dan jiwa bukanlah dua makhluk yang independen tetapi dua dimensi yang saling bergantung dari satu makhluk. Jadi kematian rohani dalam jiwa (yaitu dosa) secara alami terhubung dengan kematian fisik dalam tubuh.

  • Supernatural. Akhirnya, kematian sekarang menjadi peristiwa supernatural, jalan raya menuju Surga. Karena Kristus telah memberikan kematian makna baru ini: “Dan untuk mereka yang mati dalam rahmat Kristus, kematian adalah “keikut-sertaan” dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya” (KGK 1006). Kita harus mati di dalam Kristus supaya kita dapat mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya.

Apakah kematian itu baik atau buruk?

Keduanya. Sama seperti Tuhan membuat kejahatan spiritual terburuk (yaitu dosa manusia yang membunuh Tuhan) menjadi hal terbaik yang pernah terjadi pada kita di dunia ini. Peristiwa yang menyelamatkan manusia dari dosa, sehingga kita merayakan peristiwa ini sebagai “Jumat Agung” (Good  Friday). Tuhan juga membuat kejahatan fisik terburuk (kematian, yang menghilangkan semua hal fisik), menjadi hal terbaik yang pernah terjadi pada kita dalam hidup ini: pintu menuju kehidupan kekal, melalui kebangkitan tubuh Kristus, yang juga milik kita (jika kita dimasukkan ke dalam Tubuh itu melalui iman dan baptisan).

Karena itu, kematian sangat buruk dan sangat baik (jika kita ada di dalam Kristus). Itu sangat buruk karena apa yang hilang itu sangat berharga: kehidupan, tubuh, dan seluruh dunia bagi individu yang mati. Kristus menangis di kuburan temannya Lazarus, dan kita juga harus demikian jika kita mencintai kehidupan seperti dia. Tetapi kematian juga sangat baik jika kita mati di dalam Kristus, karena apa yang diperoleh lebih dari apa yang hilang. Tubuh ini mati, seperti benih kecil yang berharga, tetapi tubuh yang lebih besar bangkit, seperti tanaman yang lebih besar dan mulia.

St Paulus merasa bahwa mati adalah keuntungan dan jauh lebih baik karena lewat kematian dia akan diam bersama-sama dengan Kristus. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi, dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman” (Filipi 1:21-24).

Sikap Kristiani terhadap kematian

Karena kematian itu natural, unnatural, dan supernatural, kita harus memiliki tiga sikap yang sesuai terhadapnya. Karena kematian itu natural, kita harus jujur ​​menghadapinya dan menerimanya sebagai fakta, daripada menghindarinya dengan pengalihan perhatian kita yang tak ada habisnya, atau dengan hidup dalam penyangkalan, berpura-pura bahwa kematian itu tidak ada. Karena kematian itu unnatural, hukuman yang tidak terhindarkan untuk dosa, kita harus membenci dosa dan melawannya sebagai musuh kita, “musuh terakhir” (“Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” — 1 Korintus 15:26). Akhirnya, karena kematian itu juga supernatural (karena diubah oleh Kebangkitan Kristus), kita semua menyambutnya.

Elemen yang meliputi ketiga sikap ini adalah kesiapan. “Gereja mengajak kita, supaya kita mempersiapkan diri menghadapi saat kematian (“Luputkanlah kami dari kematian yang mendadak ya Tuhan” – Litani semua orang kudus), supaya mohon kepada Bunda Allah agar ia mendoakan kita “pada waktu kita mati” (doa “Salam Maria”) dan mempercayakan diri kepada santo Yosef, pelindung orang-orang yang menghadapi kematian.” (KGK 1014).

“Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?” (The Imitation of Christ, I, 23, 1; KGK 1014).

Apa yang terjadi pada saat kematian?

Kita secara alami takut mati karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian. Kita takut pada apa yang tidak diketahui, dan kematian tampak bagi kita sebagai yang tidak diketahui, kegelapan yang luar biasa.

Gereja memberi kita terang dari Kristus dalam kegelapan ini, sehingga kita dapat benar-benar berdoa, seperti Daud dalam Mazmur 23, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”.

  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah kepunahan. Jiwa tidak bisa dihancurkan sebagaimana tubuh bisa.
  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah reinkarnasi ke dalam tubuh duniawi lain dan kehidupan duniawi lainnya. “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali dan sesudah itu dihakimi,” (Ibrani 9:27).
  • Apa yang terjadi saat kematian bukanlah perubahan menjadi malaikat. Tuhan menciptakan malaikat, manusia, dan hewan untuk menjadi berbeda, tidak perlu bingung. Malaikat tidak memiliki tubuh fana, hewan tidak memiliki roh abadi; manusia memiliki keduanya.
  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah perubahan menjadi hantu. Tuhan memiliki sesuatu yang lebih substansial, yang tersedia bagi kita.

Apa yang terjadi pada saat kematian adalah “Penghakiman Khusus[1]”. Allah secara sempurna mengetahui dan menilai setiap jiwa sebagai 1) dapat memasuki Surga dengan segera, atau 2) perlu dimurnikan di Api Penyucian terlebih dahulu, dan kemudian dapat memasuki Surga, atau 3) berada di Neraka di dalam dosa yang tidak bertobat (karena waktu hidup kita telah berakhir).

Kemudian, pada “Penghakiman Umum” di akhir zaman, ada “Kebangkitan Umum” tubuh, dimana tubuh akan berbagi dalam apa yang dialami oleh jiwa.

Jawaban untuk “Apa yang terjadi pada saat kematian?” Tergantung pada tiga hal.

  1. Tergantung pada kita: pada pilihan bebas kita untuk Allah atau melawan Allah, dan pada tingkat kekudusan kita. Ada dua jalan: menuju kehidupan dan kematian (Mazmur 1; Kebijaksanaan 3: 1-8), dan Allah memberi kita martabat yang luar biasa untuk menentukan nasib kekal kita sendiri.
  2. Tetapi itu tidak sepenuhnya bergantung pada kita, karena itu tergantung pada keadilan dan kebenaran abadi (eternal justice and truth), yang tidak dapat kita ubah.
  3. Tergantung pada rahmat dan belas kasihan Tuhan. Tidak ada yang bisa membeli Surga, atau memaksa tangan Tuhan. Semua yang diselamatkan, diselamatkan oleh pilihan bebas Allah untuk berbelas kasih. Kita diselamatkan oleh belas kasihan, bukan oleh keadilan. Warga neraka berdiri di atas keadilan (justice), dan mendapatkannya. Warga surga berdiri di bawah belas kasihan (The Mercy).

Pertanyaan Sharing

  1. Sharingkan pengalaman kalian saat seseorang yang kalian kenal meninggal dunia. Apa yang kamu rasakan saat itu?
  2. Jika kamu mengetahui bahwa kamu memiliki waktu satu tahun lagi untuk hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan? Sharingkan.
  3. Peninggalan (legacy) apa yang kalian ingin tinggalkan setelah kalian meninggal?

Reference 


[1] Pembahasan lebih dalam tentang penghakiman khusus dan penghakiman umum, dapat dilihat pada materi CG yang lalu tentang Akhir Zaman. http://cg.amoredio.org/cg-reading/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik-bagian-ke-2-the-second-coming/

God of All Comfort


Orang bilang kalau seorang pemimpin haruslah bisa menjadi teladan bagi anggota-anggotanya, dan prinsip inilah juga diterapkan kepada para servant leaders di AmoreDio. Teman-teman yang menjadi servant leaders diharapkan untuk bisa mendalami iman Katolik mereka dengan lebih lagi, melalui devosi harian, datang ke seminar / acara-acara Katolik, dan recently dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan Katolisasi.

Beberapa bulan lalu kami membuat video singkat tentang buku yang kami baca. Udah liat belum videonya? Check them out on our Youtube channel if you haven’t already! 🙂

Nah, untuk sesi review dan sharing buku v2.0 ini, kami tidak melakukannya melalui video melainkan tulisan. Yuk kita simak bersama-sama ulasan buku yang pertama dari teman kita Rani:

Book title: God of All Comfort
Author: Hannah Whitall Smith

Memorable quote: Because of His unfathomable love, the God of love, when He sees His children resting their souls on things that can be shaken, must remove those things from their lives in order that they may be driven to rest only on the things that cannot be shaken.” (page 100)

Siapa sih yang nggak guilty of holding on to something / some activities / someone yang kadang ngejauhin kita dari Tuhan? Entah itu too much addiction with games / online shopping, too much browsing on Instagram / social media, too much involved dengan negative vibes colleagues, etc. sampe kita sendiri ga punya waktu or worst, turn against God.  Passage ini terutama act as wake up call for me, karena beberapa bulan terakhir my work consumes my time so much yang membuat gue jauh dari Tuhan.

Berdoa sering ketiduran, waktu morning devotion juga sangat tight, kadang nggak selesai / setengah hati, serving di ministry juga berkurang, dan setiap kamis sekarang I hardly go to cell group because I work overtime everyday. I literally barely have time for myself, let alone God. Nggak cuma time aja, I’ve also turned into someone whose impatient, bitch easily, and worst of all, unable to serve my family which was my goal in the first place.

I guess logically kita semua tau kalo kita mesti get rid of things yang bikin kita menjauh dr Tuhan. Tapi susah ya dilaksanakan? Like the above example, I know the solution is easy. Just quit the job, right? Tapi the enemy selalu saja bisa manipulate and tempt us;- there’s ego inside me that insist that I can overcome this, stop being a pussy and just suck up, and I know I will prove myself that I’m capable of doing well in this job – there’s worry and doubt inside; what’s gonna happen if I’m unemployed? Will I find another job easily? Should i stay in Indo? Or should I head back to Singapore / Australia? What’s gonna happen with my family? etc.

Indeed, the devil is the mastermind of evil acts that pull ourselves away from the Lord. Apalagi di masa2 lengah dan trial and when you’re so far away from God. 

But I noticed that it all comes back to trust and surrender to Him. There is only one permanent, unshakeable, immovable factor in our lives and that’s God and our relationship to Him. That I must “depend on the Lord and His strength and always seek Him for help” (1 Chronicles 16:11). After all, even Heavenly Father look after birds and grass, who do not labor or spin (Matthew 6:25-34). 

That I should take courage to leave behind or remove things/people that further my distance to God, because when I “seek first His kingdom and His righteousness, and all these things will be given to you as well.” (Matt 6:33).

I’m so blessed that even in these trials God still equipped me with angels: there are friends who fervently pray hard for my faith (2 of my friends encouraged me to do morning devotion of Litany of Trust), that He always found me (again and again) when I’m lost.  

So in this new year, I decided to quit my job; enrolled myself in retreat at the end of January, and serve my family (so they can get to know God more). I trust that He will provide my needs, I trust that He will lead me to things that He has planned for me… on top of the overwhelming peace I felt, I’m super stoked and excited of the new chapters He will bring!

What Should I Do in Adoration?


(Image taken from Life Teen)

Entering an adoration room for the first time can be a calming and yet a little intimidating experience at the same time. Not because we fear being with Jesus in prayer, but rather wondering what should we do when we are in the room.

As we aim to be closer to God and to be more like Him in our everyday lives, Adoration is a perfect time to sit in silence, to reflect and to pray. It’s when we put ourselves in the presence of the Lord that we learn to listen and open ourselves to His Grace that flows from the Blessed Sacrament.

Back to the question – what should one do in adoration? To help you with that, here are a few suggestions for your next trip to the Adoration room:

  1. Slowly read Sacred Scripture until something hits you. Then listen.
  2. Say the Holy Rosary.
  3. If you can’t say 15 decades, say five decades.
  4. If you can’t say five decades, say one decade (something like what Pope Emeritus Benedict XVI has mentioned)..
  5. If you can’t say one decade, say one Hail Mary very slowly.
  6. If you can’t say one Hail Mary, say “Holy Mary”, like a little child saying “Momma”.
  7. Pray as you can, not as you can’t.
  8. Look at the Good God, and let Him look at you.
  9. Consider that the Sacred Body of Jesus came from Holy Mary. Thank her.
  10. Tell Jesus something that made you happy. Then listen.
  11. Tell Him what you are afraid of. Then listen.
  12. Tell Him what angers you. Then listen.
  13. Speak about your loved ones.
  14. Pray for an enemy.
  15. Talk with Him about work.
  16. Pray to St. Joseph for a happy death.
  17. Pray for the Holy Souls in Purgatory.
  18. Sing a song for Him in your heart.
  19. Promise to trust Him.
  20. See the Blessed Virgin kneeling next to you, adoring her Son and praying with you.
  21. Realise that your Holy Guardian Angel is with you. Ask him to coach you in holiness.
  22. Renew your loyalty to His Church.
  23. Ask your patron saint to pray for you to know and do God’s Will.
  24. Lean on Him. Tell Him you love Him.
  25. Thank Him for the Sacraments.
  26. For a time, don’t DO anything. Be with Him, as a friend, while He works.
  27. Ask Him if that is perhaps what he wants you to “do” more often.
  28. Tell Him your failures. Ask for help. Then listen.
  29. Slowly recite the Beatitudes.
  30. Say one Our Father slowly.
  31. Say the Creed slowly.
  32. Slowly recite a favourite psalm. Perhaps Psalm 50 (51), the Miserere, one or two lines at a time.
  33. Pray for a great love of the Cross.
  34. See Our Lord in His Passion…stand there, with Him, as Our Lady does.
  35. Lean into the hurricane of graces coming from the monstrance.
  36. Consider the blinding Uncreated Light shining out from Him.
  37. Be aware that He is sending out graces to the world right then through you.
  38. Pray the ‘Jesus Prayer’: Lord Jesus Christ, son of God, have mercy on me, a sinner.
  39. Pray Jesus, mercy… and listen. Pray Mercy, Jesus… and listen.
  40. Tell Him: Jesus, I trust in You…strengthen my trust.
  41. Ask Him: Lord, what do you what me to do? And how do you want me to do it?
  42. Ask Him to show you the next step.
  43. Talk to Him heart to Heart.
  44. Pray for the Holy Father.
  45. Pray for vocations.
  46. Look at yourself. Count your gifts. Then thank Him.
  47. Pray for the world.
  48. Enjoy just being in His Presence.

(List taken from article originally appeared on Catholic.sg)

AmoreDio Sports Day – 23 Juli 2016


AmoreDio Sports Day – 23 Juli 2016

AmoreDio Sports Day (ASD) merupakan acara olahraga rutin tahunan yang diadakan oleh komunitas AmoreDio Tujuan dari acara ini adalah selain untuk membentuk generasi yang aktif dan dinamis, juga untuk mempererat hubungan antar anggota cell Group (CG) yang merupakan inti dari komunitas AmoreDio. Tahun ini acara ASD diadakan di Bishan Park, dimana panitia berasal dari gabungan antara CG Bishan dan CG Novena.

Acara dimulai pukul 4 sore dan puji Tuhan, meskipun paginya Bishan Park diguyur oleh hujan lebat, pada sore hari, hujan sudah reda dan acara dapat dimulai dengan baik. Sekitar 40 peserta dari berbagai umur, dari yang masih sekolah hingga yang sudah berkeluarga ikut memeriahkan permainan-permainan Sports day yang meliputi: Human Ring Toss, Captain’s Ball, Amazing race, dan tembak air yang mirip dengan acara TV “Takeshi Castle”. Tidak perlu jadi atlet dalam permainan-permainan ini, melainkan butuh ketangkasan dan kekompakan tim!

Permainan berlangsung sangat seru dan sengit, hal ini tampak dari setiap anggota tim yang saling bekerjasama dan beradu strategi di tiap permainan. Walaupun dari peserta ada yang baru kenal, merekapun tidak segan memberi masukan dan semangat. Akhirnya, satu dari 4 tim menjadi pemenangnya dan mendapatkan hadiah bingkisan dari panitia. Tetapi tentunya semua yang hadir telah menjadi pemenang, karena baik panitia dan peserta, semua sangat menikmati acara yang penuh gelak tawa dan canda ini. Sungguh keakraban dan kekeluargaan terasa disana.

Di penghujung acara, peserta menikmati camilan nikmat sambil mengobrol santai dan memandang indahnya Bishan park yang beranjak senja. Eits.. tentunya tak lengkap jika tidak ada sesi foto bersama! Smile!! Seru bukan hidup berkomunitas?

Bagi anda muda mudi Katolik di Singapura, mari kita bertumbuh bersama dalam iman dan hidup berkomunitas dalam AmoreDio. Siapa bilang hidup berkomunitas itu boring?  http://cg.amoredio.org

 

ASD 2016

 

CG Amore Dio’s 11th Birthday – 21 May 2016 “From Nothing to Something


Tahun ini Cell Group Amore Dio merayakan ulang tahunnya yang ke-11. Mengambil tema “From Nothing to Something”, peserta diajak untuk mengingat kembali akan pertumbuhan Amore Dio mulai dari ‘nol’ sebelas tahun yang lalu hingga hari ini telah berkembang menjadi 9 cell groups dan 5 ministries yang melayani anggota Amore Dio.

Poster juga mengambil referensi dari mukjizat Yesus memberi makan 5,000 orang dengan hanya 5 roti dan 2 ikan. Apa yang menurut manusia mustahil, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Para peserta dan panitia diingatkan bahwa tidak ada talenta atau pelayanan yang terlalu kecil untuk Tuhan ubah menjadi berharga bagi-Nya dan sesama kita. Acara tahun ini terbilang sangat unik dibanding tahun-tahun sebelumnya dimana panitia mengangkat tema lomba masak-memasak. Anemo dan respon dari peserta pun begitu tinggi sejak pertama kali panitia membuka pendaftaran.

Mengutip kesaksian dari pihak panitia, persiapan acara ini pun boleh dikatakan telah menjadi bukti nyata mukjizat Tuhan yang mengubah “From Nothing to Something”. Beberapa hal luar biasa yang telah dialami panitia selama proses persiapan salah satunya adalah bagaimana Tuhan menyediakan tempat acara yang sangat pas dan peralatan memasak yang begitu banyak, yang biasanya sulit untuk didapatkan oleh kalangan anak muda yang masih belum berumah tangga.

Lokasi acara yang awalnya telah ditetapkan tiba-tiba dibatalkan oleh pihak manajemen satu minggu sebelum acara sehingga panitia tidak mempunyai tempat untuk beracara. Tetapi Tuhan mengirimkan pertolongan-Nya lewat Om Handoyo dan Tante Josephine yang dengan sukarela dan gembira menawarkan tempat tinggalnya untuk menjadi tempat acara lomba memasak. Peralatan memasak yang sangat sulit didapatkan dari kalangan anak muda pun secara ajaib dapat dikumpulkan hingga lengkap melalui bantuan luar biasa dari para ibu KKIS yang tidak segan meminjamkan peralatan dapurnya untuk digunakan dalam lomba masak-memasak kali ini.

Happy 11th Birthday, Amore Dio! Doa dan harapan kami semua untuk Amore Dio terus bertumbuh menjadi keluarga dimana setiap anggota dapat mengenal dan mengalami kasih Tuhan.

 

Bergabunglah bersama komunitas muda-mudi Katolik di Singapura, Amore Dio.  http://cg.amoredio.org

amoredio

Rekoleksi Cell Group Amore Dio – 30-31 Jan 2016


poster TOBDi awal tahun 2016, Cell Group Amore Dio kembali mengadakan acara tahunan dalam bentuk rekoleksi dengan judul “Shades of Love”. Tiga pembicara dari TOBIT diundang untuk membawakan topik ini. Mereka adalah Yurika Agustina, Riko Ariefano dan Lia Ariefano. TOBIT (Theology Of the Body InsighT) adalah sebuah badan pewartaan Teologi Tubuh yang mengedepankan kebenaran, kebaikan dan keindahan iman katolik tentang harkat martabat tubuh manusia, seksualitas dan panggilan hidup dengan harapan mereka yang mempelajarinya mengalami transformasi hati dan pikiran menuju evangelisasi baru. TOBIT diluncurkan sejak 20 November 2010 dan merupakan salah satu dari kerasulan Komunitas Domus Cordis dari Keuskupan Agung Jakarta.

Topik ini dipilih karena melihat kebutuhan katekese di kalangan orang muda Katolik seputar moral dan seksualitas yang sesuai dengan ajaran iman Katolik. Dengan semakin maraknya pengaruh budaya kematian dalam era globalisasi bagi orang muda, seperti seks bebas, pornografi, aborsi dan pelecehan seksual, topik ini menjadi sangat menarik dan relevan, terbukti dengan registrasi yang langsung penuh tidak lama setelah poster disebarkan online, bahkan ada beberapa yang dimasukkan dalam waiting list. Total peserta mencapai 115 orang.

Sesi diawali oleh Yurika yang memberikan penjelasan dasar tentang Teologi Tubuh yang diajarkan oleh Santo Yohanes Paulus II. Kemudian di sesi 2, peserta mendapatkan penjelasan lebih banyak dari Riko tentang perbedaan antara Love dengan Lust, dan bagaimana membangun relasi yang benar antara laki-laki dan perempuan. Setelah itu sesi dilanjutkan dengan adorasi supaya peserta dapat merenungkan penjelasan yang baru diberikan, menyesali dosa-dosa yang telah dibuat sebelumnya, kemudian merasakan kehadiran Yesus yang penuh kasih dan pengampunan. Hari pertama ditutup dengan sesi sharing terpisah antara grup laki-laki dan perempuan, dimana dijelaskan lebih lanjut tentang perbedaan peranan laki-laki dan perempuan dalam rencana Tuhan.

Sesi di hari kedua diawali dengan pembahasan tentang bagaimana menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup, baik saat melajang maupun sudah menikah. Juga dijelaskan tentang panggilan hidup menjadi selibat awam. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang seru karena banyak sekali pertanyaan yang muncul dari peserta. Kemudian perayaan Ekaristi menjadi puncak acara dan juga penutup dari rekoleksi ini.

Cell Group Gabungan West dan Youth Asisi – 21 Aug 2015


Kasih Bunda Maria di keseharian kita

ad-cgg
Umat Katolik sangat identik dengan Bunda Maria, ibu dari sang Juru Selamat Yesus Kristus dan ibu kita semua. Bahagianya kita mempunyai Bunda Maria sebagai perantara doa-doa kita kepada Allah. Betapa pentingnya kita untuk mengenal lebih dekat sosok Maria – bunda Gereja, yang bukan sekedar patung yang ada di setiap gereja di dunia ini.

CG Gabungan West & Youth Asisi membawakan topik “Mother Mary’s Apparitions”. Maria selalu hadir di keseharian kita baik di hati umatnya maupun sebagai sosok nyata lewat penampakannya dalam kehidupan beberapa Santo – Santa. Banyak tempat ziarah di Eropa (Lourdes, Laus, Portugal, dll) atau Meksiko (Guadalupe) mempunyai kisah unik dan berkesan mengenai mukjizat yang nyata karena kehadiran sang Bunda.

Maria selalu hadir kepada orang yang terpilih untuk menyampaikan pesan dan tujuan yang positif dalam membangun kehidupan Gereja. Tapi terkadang tidak semua penampakan itu benar dan dapat memberikan pengaruh yang negatif buat perkembangan iman kita. Oleh karena itu, CGG kali ini juga menekankan perlunya kita untuk mengetahui kriteria-kriteria Vatikan untuk membenarkan penampakan – penampakan tersebut. Berdasarkan kriteria ini, penyelidikan atas penampakan itu dimulai dari keuskupan setempat secara seksama hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Bunda Maria memberi kita senjata untuk melawan Goliat yang ada dalam keseharian kita. Inilah kerikil-kerikil yang menjadi senjatamu:

  1. Berdoa Rosario dengan sepenuh hati
  2. Ekaristi
  3. Kitab Suci
  4. Berpuasa
  5. Pengakuan dosa setiap bulan.

CG Amore Dio menjadi wadah bagi anak-anak muda Katolik Indonesia di Singapura untuk bersama-sama belajar tentang Tuhan dan berbagi suka-duka pengalaman iman masing-masing anggota. Kami selalu ada buat anda semua yang ingin belajar dan mengenal Tuhan lebih dekat. Bergabunglah!

Thanks God we are 10!


Thanks GOD we are 10!

Puji Tuhan, Amore Dio boleh merayakan ulang tahun yang ke-10 tahun ini! Mungkin 10 tahun bisa dibilang pendek, namun bagi komunitas anak muda Katolik di Singapura ini, banyak pertumbuhan yang telah dicapai dalam jangka waktu ini – baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dimulai oleh 5 – 6 orang di tahun 2005 (waktu itu disebut dengan CG East), Amore Dio sekarang telah berkembang menjadi 10 cell group yang berada di berbagai wilayah di Singapura, dengan lebih dari 200 anggota. Selain pendalaman iman lewat doa, Praise & Worship dan Bible Study, para anggota juga bisa menyalurkan bakat dan talenta mereka lewat ministry-ministry yang ada, seperti Material, Creative, Prayer, Praise & Worship, Membership & Outreach.

Perayaan ulang tahun Amore Dio yang ke-10 ini diadakan tgl 23 Mei yang lalu dan dimulai dengan Misa Syukur & Pelantikan Servant Leaders di Parish Hall, St. Bernadette Church. Dalam homilinya, Romo Sambodo SS.CC. (yang juga menjadi romo pembimbing Amore Dio) menceritakan bagaimana dulu Paulus ditempatkan dalam tahanan rumah namun diberikan kebebasan untuk menerima tamu dan memberikan kesaksian kepada mereka. Ini menjadi pesan dan ajakan bagi Amore Dio untuk selalu mensyukuri dan menggunakan kebebasan yang ada dengan penuh tanggung jawab dan untuk tujuan yang mulia.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara kali ini dilanjutkan dengan perayaan di Red Cross Home For The Disabled dan melibatkan bukan hanya anggota Amore Dio namun juga para penghuni di Red Cross Home. Aktivitas yang dipilih pun bertujuan untuk menghibur para penghuni lewat audio & visual (lagu dan tarian). Disela-sela permainan, anggota Amore Dio diberi kesempatan untuk membantu menyuapi para penghuni. Walaupun ini bukan kunjungan Amore Dio yang pertama kali kesana, namun banyak yang tidak menyangka bahwa perayaan CG Birthday ternyata bisa tetap seru dan meriah walaupun dalam wujud bakti sosial. Acara ini adalah bentuk nyata dari moto “Tiada Syukur Tanpa Peduli” dan sesuai dengan visi dan misi Amore Dio untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang nyata di tengah masyarakat.

Semoga di tahun-tahun yang akan datang, komunitas ini terus bertumbuh dalam iman dan kasih Tuhan. Selamat Ulang Tahun yang ke-10, Amore Dio!

AmoreDio's Birthday 10 group photo