The Resurrection of the Body – Part 1 (Death)


Intro

Catatan untuk fasil: materi ini adalah bagian pertama dari materi tentang The Ressurection of the Body. Fasil dapat membaca bagian pertama dan kedua (bahan minggu depan) agar lebih memahami keseluruhan materi ini.

“Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Kebangkitan Badan, Kehidupan Kekal”. Setiap hari minggu kita mengucapkan kata-kata ini. Tetapi, apakah kita memahami makna iman kita yang kita ucapkan setiap minggu?

Pada CG minggu ini dan minggu depan kita akan mendalami makna dibalik kata-kata Kebangkitan Badan (The resurrection of the body). Mengapa kebangkitan badan ini begitu penting sehingga kita menyatakannya dalam pernyataan iman Aku Percaya.

Pembahasan

Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian yang sangat penting dalam iman Kristiani. Orang yang tidak percaya akan kebangkitan badan, tidak percaya akan Kristus yang telah bangkit. St Paulus kepada jemaat di Korintus mengatakan:

“Bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Kalau tidak ada kebangkitan orang mati maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. … Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:12-14.20).

Iman akan kebangkitan badan sangat berhubungan erat dengan iman akan Kristus yang bangkit.

Di dalam bunyi rumusan asli Aku Percaya (the Apostles’ Creed), kata yang dipakai adalah daging (flesh), “Kebangkitan daging”. Ungkapan daging di sini mengacu kepada manusia dalam kelemahan dan keadaannya yang fana. Ungkapan kebangkitan daging ini berarti bahwa sesudah kematian tidak hanya jiwa kita yang hidup terus, tetapi juga “tubuh kita yang fana” ini juga akan hidup kembali seperti kata St Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma:

“Dan jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Roma 8:11)

Pada minggu ini, mari kita memahami pentingnya kematian dan apa yang Gereja ketahui tentang kematian. Kita akan bahas lebih mendalam tentang kebangkitan badan di sesi CG minggu depan.

Pentingnya kematian

Tidak ada yang membawa kita pada pentingnya dan nilai hidup manusia lebih tajam daripada kematian. Kita jarang menghargai hidup kita sampai kita menyadari betapa rapuhnya hidup itu, terutama di saat teman dan keluarga diambil dari kita oleh kematian.

Aspek kematian ini memberi kepada kehidupan kita sesuatu yang mendesak: keyakinan akan kefanaan mengingatkan kita bahwa hanya tersedia bagi kita suatu jangka waktu terbatas untuk menjalankan kehidupan kita (KGK 1007). Di saat kita menyadari bahwa waktu kematian kita akan datang dengan pasti, hal-hal yang penting (essensial) tidak akan nampak sepele lagi. Seperti kata pemazmur di Mazmur 90:12, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Teach us to number our days, that we may get a heart of wisdom).

Kematian mempertajam pandangan kita, dan membawa seluruh hidup kita ke suatu titik. Kematian mengajarkan kepada kita kebenaran kata-kata Yesus: “Marta, Marta, kamu khawatir dan cemas tentang banyak hal. Tetapi hanya satu hal yang perlu ”(Lukas 10:41). “Satu hal” tersebut adalah Allah, dan hubungan kita dengan Allah. Hanya Tuhan yang abadi, dan hanya hubungan kita dengan Tuhan yang abadi. Hanya Tuhan yang penting dalam keberadaan-Nya, dan hanya hubungan kita dengan Tuhan yang mutlak diperlukan bagi keberadaan kita. Dari semua hal yang lain, memang benar untuk mengatakan, “ini juga akan berlalu.” Hanya Allah yang tetap ada.

Apa yang Gereja ketahui tentang kematian?

Gereja datang sebagai saksi kabar baik tentang kematian dan kehidupan setelah kematian dari Manusia yang mengaku sebagai Tuhan. Dia membuktikannya dengan bangkit dari kematian. Orang yang skeptis bertanya, “Apa yang Anda ketahui tentang kehidupan setelah mati? Apakah Anda pernah ke sana? ”Dan jawaban Katolik adalah:“ Tidak, tetapi saya tahu Seseorang yang pernah, dan saya percaya kepada-Nya. ”Kita umat Katolik mengenal-Nya – itu adalah hal penting yang kita tahu, dan alasan penting untuk menjadi seorang Katolik – dan karena itu kita tahu arti kematian, melalui para saksi-Nya, para rasul-Nya dan penerus-Nya, yaitu Gereja.

Mengapa kita mati?

Kematian adalah “berita buruk” dari masa lalu, yang datang sebelum Injil, dan juga merupakan “kabar baik” tentang masa depan, tentang penaklukan kematian melalui Kristus. Kabar baiknya adalah bahwa Kristus adalah Juru Selamat dari dosa dan kematian, Juru selamat jiwa dan tubuh. Tetapi sama seperti “kabar baik” keselamatan dari dosa mensyaratkan “kabar buruk” dosa, demikian pula “kabar baik” keselamatan dari kematian mensyaratkan “kabar buruk” kematian.

Gereja memberi tahu kita tiga alasan mengapa kita mati. Yang pertama adalah alasan natural, yang kedua unnatural, dan yang ketiga supernatural.

  1. Natural. “Dalam arti tertentu, kematian tubuh adalah alami …” (KGK 1006), karena kita memiliki tubuh. Kita bukan malaikat yang murni roh.
  2. Unnatural. “[untuk iman] [kematian] itu adalah upah dosa” (KGK 1006), dan karenanya unnatural. “Allah tidak membuat maut, dan Ia tidak senang akan kematian orang yang hidup” (Kebijaksanaan 1:13). Awalnya Allah menciptakan manusia bebas dari kematian, tetapi ketika ia menguji manusia dan manusia gagal dalam ujian, manusia jatuh ke dalam maut (Kejadian 3:34,19). Penyebab kematian adalah dosa (Roma 6:23).

Dosa adalah pemisahan dari Tuhan (dimana Tuhan adalah sumber dari semua kehidupan). Tubuh dan jiwa bukanlah dua makhluk yang independen tetapi dua dimensi yang saling bergantung dari satu makhluk. Jadi kematian rohani dalam jiwa (yaitu dosa) secara alami terhubung dengan kematian fisik dalam tubuh.

  • Supernatural. Akhirnya, kematian sekarang menjadi peristiwa supernatural, jalan raya menuju Surga. Karena Kristus telah memberikan kematian makna baru ini: “Dan untuk mereka yang mati dalam rahmat Kristus, kematian adalah “keikut-sertaan” dalam kematian Kristus, supaya dapat juga mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya” (KGK 1006). Kita harus mati di dalam Kristus supaya kita dapat mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya.

Apakah kematian itu baik atau buruk?

Keduanya. Sama seperti Tuhan membuat kejahatan spiritual terburuk (yaitu dosa manusia yang membunuh Tuhan) menjadi hal terbaik yang pernah terjadi pada kita di dunia ini. Peristiwa yang menyelamatkan manusia dari dosa, sehingga kita merayakan peristiwa ini sebagai “Jumat Agung” (Good  Friday). Tuhan juga membuat kejahatan fisik terburuk (kematian, yang menghilangkan semua hal fisik), menjadi hal terbaik yang pernah terjadi pada kita dalam hidup ini: pintu menuju kehidupan kekal, melalui kebangkitan tubuh Kristus, yang juga milik kita (jika kita dimasukkan ke dalam Tubuh itu melalui iman dan baptisan).

Karena itu, kematian sangat buruk dan sangat baik (jika kita ada di dalam Kristus). Itu sangat buruk karena apa yang hilang itu sangat berharga: kehidupan, tubuh, dan seluruh dunia bagi individu yang mati. Kristus menangis di kuburan temannya Lazarus, dan kita juga harus demikian jika kita mencintai kehidupan seperti dia. Tetapi kematian juga sangat baik jika kita mati di dalam Kristus, karena apa yang diperoleh lebih dari apa yang hilang. Tubuh ini mati, seperti benih kecil yang berharga, tetapi tubuh yang lebih besar bangkit, seperti tanaman yang lebih besar dan mulia.

St Paulus merasa bahwa mati adalah keuntungan dan jauh lebih baik karena lewat kematian dia akan diam bersama-sama dengan Kristus. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi, dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman” (Filipi 1:21-24).

Sikap Kristiani terhadap kematian

Karena kematian itu natural, unnatural, dan supernatural, kita harus memiliki tiga sikap yang sesuai terhadapnya. Karena kematian itu natural, kita harus jujur ​​menghadapinya dan menerimanya sebagai fakta, daripada menghindarinya dengan pengalihan perhatian kita yang tak ada habisnya, atau dengan hidup dalam penyangkalan, berpura-pura bahwa kematian itu tidak ada. Karena kematian itu unnatural, hukuman yang tidak terhindarkan untuk dosa, kita harus membenci dosa dan melawannya sebagai musuh kita, “musuh terakhir” (“Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” — 1 Korintus 15:26). Akhirnya, karena kematian itu juga supernatural (karena diubah oleh Kebangkitan Kristus), kita semua menyambutnya.

Elemen yang meliputi ketiga sikap ini adalah kesiapan. “Gereja mengajak kita, supaya kita mempersiapkan diri menghadapi saat kematian (“Luputkanlah kami dari kematian yang mendadak ya Tuhan” – Litani semua orang kudus), supaya mohon kepada Bunda Allah agar ia mendoakan kita “pada waktu kita mati” (doa “Salam Maria”) dan mempercayakan diri kepada santo Yosef, pelindung orang-orang yang menghadapi kematian.” (KGK 1014).

“Dalam segala perbuatanmu, dalam segala pikiranmu, hendaklah kamu bertindak seakan-akan hari ini kamu akan mati. Jika kamu mempunyai hati nurani yang bersih, kamu tidak akan terlalu takut mati. Lebih baik menjauhkan diri dari dosa, daripada menghindari kematian. Jika hari ini kamu tidak siap, apakah besok kamu akan siap?” (The Imitation of Christ, I, 23, 1; KGK 1014).

Apa yang terjadi pada saat kematian?

Kita secara alami takut mati karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian. Kita takut pada apa yang tidak diketahui, dan kematian tampak bagi kita sebagai yang tidak diketahui, kegelapan yang luar biasa.

Gereja memberi kita terang dari Kristus dalam kegelapan ini, sehingga kita dapat benar-benar berdoa, seperti Daud dalam Mazmur 23, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”.

  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah kepunahan. Jiwa tidak bisa dihancurkan sebagaimana tubuh bisa.
  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah reinkarnasi ke dalam tubuh duniawi lain dan kehidupan duniawi lainnya. “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali dan sesudah itu dihakimi,” (Ibrani 9:27).
  • Apa yang terjadi saat kematian bukanlah perubahan menjadi malaikat. Tuhan menciptakan malaikat, manusia, dan hewan untuk menjadi berbeda, tidak perlu bingung. Malaikat tidak memiliki tubuh fana, hewan tidak memiliki roh abadi; manusia memiliki keduanya.
  • Apa yang terjadi pada saat kematian bukanlah perubahan menjadi hantu. Tuhan memiliki sesuatu yang lebih substansial, yang tersedia bagi kita.

Apa yang terjadi pada saat kematian adalah “Penghakiman Khusus[1]”. Allah secara sempurna mengetahui dan menilai setiap jiwa sebagai 1) dapat memasuki Surga dengan segera, atau 2) perlu dimurnikan di Api Penyucian terlebih dahulu, dan kemudian dapat memasuki Surga, atau 3) berada di Neraka di dalam dosa yang tidak bertobat (karena waktu hidup kita telah berakhir).

Kemudian, pada “Penghakiman Umum” di akhir zaman, ada “Kebangkitan Umum” tubuh, dimana tubuh akan berbagi dalam apa yang dialami oleh jiwa.

Jawaban untuk “Apa yang terjadi pada saat kematian?” Tergantung pada tiga hal.

  1. Tergantung pada kita: pada pilihan bebas kita untuk Allah atau melawan Allah, dan pada tingkat kekudusan kita. Ada dua jalan: menuju kehidupan dan kematian (Mazmur 1; Kebijaksanaan 3: 1-8), dan Allah memberi kita martabat yang luar biasa untuk menentukan nasib kekal kita sendiri.
  2. Tetapi itu tidak sepenuhnya bergantung pada kita, karena itu tergantung pada keadilan dan kebenaran abadi (eternal justice and truth), yang tidak dapat kita ubah.
  3. Tergantung pada rahmat dan belas kasihan Tuhan. Tidak ada yang bisa membeli Surga, atau memaksa tangan Tuhan. Semua yang diselamatkan, diselamatkan oleh pilihan bebas Allah untuk berbelas kasih. Kita diselamatkan oleh belas kasihan, bukan oleh keadilan. Warga neraka berdiri di atas keadilan (justice), dan mendapatkannya. Warga surga berdiri di bawah belas kasihan (The Mercy).

Pertanyaan Sharing

  1. Sharingkan pengalaman kalian saat seseorang yang kalian kenal meninggal dunia. Apa yang kamu rasakan saat itu?
  2. Jika kamu mengetahui bahwa kamu memiliki waktu satu tahun lagi untuk hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan? Sharingkan.
  3. Peninggalan (legacy) apa yang kalian ingin tinggalkan setelah kalian meninggal?

Reference 


[1] Pembahasan lebih dalam tentang penghakiman khusus dan penghakiman umum, dapat dilihat pada materi CG yang lalu tentang Akhir Zaman. http://cg.amoredio.org/cg-reading/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik-bagian-ke-2-the-second-coming/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.